JAKARTA, ifakta.co – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan Bendungan Cijurey dan Bendungan Cibeet sebagai langkah strategis untuk menekan risiko banjir di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, terutama di Kabupaten Karawang dan Bekasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Citarum Hilir terus menghadapi ancaman banjir berulang. Data mencatat, kerugian akibat bencana tersebut dalam tujuh tahun terakhir mencapai Rp5,6 triliun, atau rata-rata sekitar Rp800 miliar per tahun. Angka ini menunjukkan perlunya solusi jangka panjang yang lebih sistematis dan terintegrasi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan percepatan pembangunan dua bendungan tersebut menjadi prioritas pemerintah. Ia menilai penyelesaian proyek ini sangat penting untuk mengurangi dampak banjir yang kerap melanda wilayah Karawang dan Bekasi.
Iklan
“Saya berharap pembangunan ini bisa selesai pada 2027–2028. Kalau tidak segera dituntaskan, saya khawatir banjir akan kembali terjadi di Karawang dan Bekasi,” ujar Dody dalam konferensi pers di Kantor Kementerian PU, Jumat (10/4/2026).
Secara proyeksi, keberadaan Bendungan Cijurey dan Cibeet mampu menekan potensi banjir hingga 80 persen untuk periode ulang lima tahunan. Selain itu, proyek ini diperkirakan dapat mengurangi potensi kerugian hingga Rp16 triliun dalam kurun waktu 25 tahun.
Peran Strategis Bendungan Cijurey
Bendungan Cijurey yang berlokasi di Kabupaten Bogor dirancang memiliki kapasitastampung sekitar 14,37 juta meter kubik. Infrastruktur ini memiliki tinggi 78 meter dan panjang 614 meter.
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, bendungan ini juga mampu mereduksi debit air hingga 59,33 persen atau setara 172,94 meter kubik per detik. Dampaknya, area terdampak seluas 72 hektare dapat diminimalkan.
Di sisi lain, Bendungan Cijurey juga akan mendukung sistem irigasi seluas 2.047 hektare yang mencakup wilayah Kecamatan Cariu, Sukamakmur, dan Tanjungsari.
Hingga 10 April 2026, progres pembangunan fisik bendungan ini telah mencapai 37,20 persen, dengan realisasi keuangan sebesar 32,84 persen.
Tantangan dan Potensi Bendungan Cibeet
Sementara itu, Bendungan Cibeet menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir terintegrasi di DAS Citarum Hilir, bersama Bendungan Cijurey dan Bendungan Cipamingkis.
Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas tampung yang jauh lebih besar, yakni sekitar 83,28 juta meter kubik. Dengan kapasitas tersebut, Cibeet diproyeksikan mampu mengurangi debit banjir hingga 297,97 meter kubik per detik, serta melindungi area seluas 5.822 hektare.
Tak hanya itu, Bendungan Cibeet juga berperan dalam memperkuat ketahanan air, energi, dan pangan. Infrastruktur ini akan mendukung layanan irigasi Daerah Irigasi Tarum Barat seluas 7.800 hektare, serta membuka potensi irigasi baru sekitar 1.036,97 hektare di wilayah Jawa Barat.
Namun demikian, proyek ini masih menghadapi kendala serius dalam proses pembebasan lahan. Hingga April 2026, realisasi pembebasan lahan baru mencapai sekitar 7,9 persen dari total kebutuhan 1.700,26 hektare.
Kementerian PU terus mendorong percepatan pembangunan kedua bendungan tersebut melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Selain itu, pemerintah juga berupaya mempercepat pembebasan lahan dan mengoptimalkan pelaksanaan konstruksi di lapangan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menghadirkan solusi komprehensif untuk mengatasi banjir yang selama ini menjadi persoalan tahunan di Karawang dan Bekasi.
(faz/fza)



