SEMARANG, ifakta.co – UpScrolled merupakan aplikasi media sosial baru yang hadir sebagai alternatif platform arus utama seperti TikTok.

Aplikasi ini dikembangkan oleh Issam Hijazi, seorang teknolog keturunan Palestina–Yordania–Australia, dengan membawa misi menyediakan ruang digital yang bebas dari praktik sensor tersembunyi dan kendali narasi politik.

UpScrolled didirikan sekitar satu tahun lalu dan mulai menarik perhatian publik internasional seiring meningkatnya kekhawatiran pengguna terhadap pembatasan konten isu politik sensitif, khususnya terkait Palestina, di sejumlah platform besar. Aplikasi ini juga didukung oleh Tech for Palestine, sebuah proyek advokasi yang mendanai inisiatif teknologi pro-Palestina.

Iklan

Secara tampilan dan fitur, UpScrolled menggabungkan elemen dari beberapa platform media sosial populer. Pengguna dapat mengunggah foto, video pendek vertikal, maupun teks, serta berinteraksi melalui fitur linimasa, tanda suka, kolom komentar, dan unggah ulang.

Selain itu, UpScrolled menyediakan “Halaman Temukan” yang menampilkan topik dan konten yang sedang tren.

Salah satu keunggulan yang ditonjolkan UpScrolled adalah kebijakan anti-sensor. Platform ini mengklaim tidak menerapkan shadowban, tidak membatasi jangkauan konten secara tersembunyi, serta tidak memberikan perlakuan berbeda berdasarkan pembayaran maupun kepentingan politik tertentu.

Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi, menyebut latar belakang personal menjadi salah satu alasan utama lahirnya aplikasi ini. Ia mengaku kehilangan anggota keluarganya di Gaza dan merasa perlu membangun sesuatu yang bermanfaat di tengah situasi tersebut.

“Saya melihat banyak orang mempertanyakan mengapa tidak ada alternatif selain platform Big Tech untuk menyalurkan konten mereka yang kerap disensor. Dari situ saya berpikir, mengapa kita tidak membangun platform sendiri?” kata Hijazi dalam wawancara dengan Rest of World, Rabu (28/1/2026).

Popularitas UpScrolled mulai meningkat ketika banyak pengguna media sosial di Amerika Serikat mencari alternatif TikTok.

Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat dan China menandatangani kesepakatan divestasi TikTok pada Kamis (22/1), yang membuat operasional TikTok di AS tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ByteDance, perusahaan induk yang berbasis di China.

Dalam struktur kepemilikan baru tersebut, Oracle, perusahaan teknologi AS yang didirikan Larry Ellison menjadi salah satu pemegang saham entitas TikTok di AS.

Ellison dikenal sebagai pendukung kuat Israel dan memiliki hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kondisi ini memicu kekhawatiran sebagian pengguna terkait potensi sensor terhadap konten pro-Palestina di TikTok.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah TikTok secara permanen memblokir akun jurnalis Palestina pemenang Emmy sekaligus kontributor Al Jazeera dari Gaza, Bisan Owda, pada Rabu (28/1). Pemblokiran ini memicu gelombang protes, seruan boikot, serta tuduhan sensor terhadap konten yang menyoroti isu Palestina dan kebijakan aparat Amerika Serikat.

Di tengah situasi tersebut, UpScrolled mulai dipandang sebagai salah satu alternatif media sosial yang menawarkan ruang berekspresi lebih terbuka. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah pengguna aplikasi ini meningkat dari sekitar 150 ribu menjadi lebih dari satu juta pengguna, bahkan sempat membuat server platform mengalami gangguan.

UpScrolled juga tercatat masuk jajaran aplikasi teratas yang paling banyak diunduh di App Store Apple di sejumlah negara, seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Amerika Serikat, serta menempati peringkat pertama kategori “jejaring sosial” aplikasi gratis di AS pada Rabu (28/1/2026).

Sumber: @narasinewsroom

(naf/kho)