YOGYAKARTA, ifakta.co – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperluas jejaring internasional di sektor pendidikan dan peternakan. Kali ini, UGM menerima kunjungan delegasi Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College (JSAHVC) dari Tiongkok untuk membahas peluang kolaborasi strategis.
Pertemuan itu membuka jalan bagi pengembangan pendidikan tinggi, riset terapan, teknologi peternakan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan ASEAN. Selain itu, kedua institusi ingin memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri.
Delegasi JSAHVC juga mengajak UGM bergabung dalam Project Construction Plan for the Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College–ASEAN College of Animal Husbandry Engineering Technology.
Iklan
Program tersebut menghubungkan perguruan tinggi ASEAN dengan industri peternakan melalui pengembangan talenta, layanan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan pertukaran budaya. Karena itu, kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi baru.
JSAHVC Bangun Kemitraan Pendidikan dan Industri
JSAHVC menggandeng Indonesia Haida Agriculture Co., Ltd. untuk membangun ekosistem pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri peternakan modern.
Program tersebut mengedepankan pemanfaatan sumber daya bersama, pertukaran keahlian, serta pengembangan inovasi secara kolaboratif. Dengan pendekatan itu, perguruan tinggi dan industri dapat saling memperkuat.
Wakil Presiden JSAHVC, Jundong Liu, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan UGM.
“Terima kasih atas jamuan yang luar biasa. Meskipun merupakan kunjungan pertama kami ke UGM, sambutannya sungguh luar biasa,” ujarnya, dikutip dari laman UGM (11/6).
Ia menjelaskan bahwa JSAHVC telah berdiri sejak 1958. Kampus tersebut fokus mengembangkan pendidikan vokasi di bidang peternakan, kesehatan hewan, biomedis, dan farmasi veteriner.
“JSAHVC memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pendidikan vokasional yang berfokus pada industri peternakan, kesehatan hewan, biomedis, dan farmasi hewan. Kami berharap dapat membangun kerja sama yang kuat dengan UGM dan perguruan tinggi lain di ASEAN untuk menciptakan platform pendidikan dan inovasi yang memberikan manfaat bersama,” katanya.
UGM Dorong Inovasi dan Teknologi Peternakan
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menyatakan kampusnya menyambut baik inisiatif tersebut.
Menurutnya, UGM terus mengembangkan inovasi agroindustri. Salah satu fokus utamanya ialah sektor peternakan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kami menyambut baik inisiatif kerja sama ini dan berharap dapat menjalin kolaborasi yang produktif dengan JSAHVC. Saat ini UGM memiliki fokus yang kuat pada pengembangan inovasi agroindustri, khususnya di bidang peternakan yang menjadi salah satu sektor strategis bagi ketahanan pangan,” ujarnya.
Selain itu, UGM terus mengembangkan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor peternakan.
“UGM saat ini berupaya memenuhi kebutuhan pengembangan peternakan secara mandiri. Ke depan, kami berharap berbagai teknologi peternakan, termasuk teknologi pengolahan dan pemotongan unggas, dapat dikembangkan bersama dan diintegrasikan dengan program pendidikan di Sekolah Vokasi,” katanya.
Magang Internasional Jadi Peluang Baru Mahasiswa
Kerja sama ini juga membuka kesempatan lebih luas bagi mahasiswa untuk belajar langsung di dunia industri internasional.
UGM melihat peluang besar untuk melibatkan mitra industri, termasuk PT Haida, dalam penguatan program magang. Dengan begitu, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman praktis sekaligus memperluas wawasan global.
“Kami juga melihat peluang besar untuk melibatkan mitra industri seperti PT Haida dalam penguatan program magang mahasiswa sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung di dunia industri internasional,” tambah Danang.
Melalui kolaborasi tersebut, UGM dan JSAHVC ingin memperkuat pendidikan tinggi, memperluas riset terapan, serta mempercepat inovasi teknologi peternakan di kawasan ASEAN.
“Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya UGM memperluas jejaring internasional sekaligus mendukung transformasi sektor peternakan yang lebih modern, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan,” pungkasnya.
(naf/lex)



