JAKARTA, ifakta.co – Kesulitan membaca pada anak tidak selalu menunjukkan kurangnya kemauan belajar. Dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan disleksia yang membutuhkan pendekatan khusus.
Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) memperkirakan sekitar tujuh juta anak di Indonesia mengalami disleksia. Namun, banyak kasus masih terlambat mendapat perhatian karena masyarakat belum memahami karakteristik gangguan belajar tersebut.
Disleksia termasuk gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja. Anak juga dapat mengalami kesulitan menghubungkan bunyi dengan huruf.
Iklan
Kondisi tersebut tidak berkaitan langsung dengan tingkat kecerdasan. Anak dengan disleksia tetap dapat bermain, beraktivitas, serta mengembangkan kemampuan lain seperti anak pada umumnya.
Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi., mengatakan minimnya informasi turut memicu stigma terhadap anak dengan disleksia.
Menurut Cahyo, masyarakat sering menilai kemampuan anak berdasarkan hasil akademik. Akibatnya, kesulitan membaca dapat memunculkan anggapan bahwa anak malas atau tidak memiliki kemampuan yang cukup.
“Anak dengan disleksia dapat bermain dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya. Namun, ketika mengalami kesulitan membaca atau berhitung, kondisi tersebut mudah disalahartikan sebagai keengganan untuk belajar. Akhirnya, anak dianggap malas. Kesalahpahaman seperti itu muncul karena pengetahuan masyarakat mengenai kesulitan belajar belum merata,” kata Cahyo.
Karena itu, orang tua perlu melihat perkembangan anak secara menyeluruh. Mereka juga sebaiknya tidak langsung memberi label hanya karena anak mengalami kesulitan pada pelajaran tertentu.
Kenali Tanda Disleksia Tanpa Terburu-buru Mendiagnosis
Cahyo menyarankan orang tua memperhatikan pola kesulitan anak. Jika masalah membaca muncul secara konsisten, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Beberapa tanda dapat menjadi perhatian. Misalnya, anak kesulitan menghubungkan huruf dengan bunyinya. Anak juga dapat membaca sangat lambat atau sering melakukan kesalahan meski sudah memperoleh pengajaran yang memadai.
Selain itu, kesulitan mengeja juga dapat muncul. Namun, orang tua tidak boleh menggunakan satu tanda sebagai dasar untuk langsung menyimpulkan disleksia.
Usia dan tahap perkembangan anak juga perlu menjadi pertimbangan. Begitu pula pengalaman belajar serta kondisi anak secara keseluruhan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri. Pemeriksaan profesional dapat membantu menentukan penyebab kesulitan belajar secara lebih tepat.
Cahyo juga mengingatkan orang tua agar tidak memberikan tuntutan akademik secara berlebihan. Dorongan agar anak segera menguasai kemampuan membaca, menulis, atau berhitung sebelum waktunya justru dapat memicu tekanan.
Tekanan tersebut dapat menimbulkan kecemasan. Akibatnya, anak semakin sulit menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.
“Ketika semakin ditekan, anak dapat mengalami kecemasan. Jadi, apabila merasa khawatir, jangan langsung menilai atau mendiagnosis sendiri. Orang tua boleh mencurigai adanya kesulitan, tetapi kesimpulannya harus didasarkan pada pemeriksaan yang tepat,” tegasnya.
Selanjutnya, deteksi dini dapat membantu anak memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya. Namun, pendampingan tidak cukup dengan meminta anak mengulang materi menggunakan cara yang sama.
Anak dengan disleksia membutuhkan pembelajaran yang terstruktur. Guru dan orang tua dapat menyesuaikan metode dengan cara anak menerima serta mengolah informasi.
Pendekatan multisensori juga dapat menjadi bagian dari proses belajar. Anak dapat menggunakan lebih dari satu indra saat mengenali huruf, bunyi, atau kata.
Selain itu, latihan membaca secara bertahap dapat membantu anak membangun kemampuan. Orang tua dan guru juga perlu memberikan waktu yang cukup ketika anak menyelesaikan tugas.
Kolaborasi antara rumah dan sekolah juga penting. Orang tua, guru, serta tenaga profesional perlu menjaga komunikasi agar pendampingan berjalan konsisten.
Cahyo mendorong sekolah dan keluarga memperluas pemahaman mengenai perkembangan anak. Dengan begitu, kesulitan belajar tidak langsung dianggap sebagai perilaku malas atau bermasalah.
Pemerintah juga memiliki peran dalam memperluas edukasi mengenai gangguan belajar. Kerja sama sektor pendidikan dan kesehatan dapat membantu masyarakat memperoleh informasi, pemeriksaan, serta layanan intervensi sejak awal.
Pada akhirnya, disleksia tidak menentukan kecerdasan seorang anak. Kemampuan akademik pada satu bidang juga tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran potensi.
Setiap anak memiliki minat dan kekuatan yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memberi ruang agar anak berkembang sesuai kemampuan dan bakatnya.
“Anak-anak memiliki bakat dan minat masing-masing. Tidak semua anak dapat dipaksakan berprestasi dalam matematika, fisika, atau bahasa. Berikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai dengan bakatnya,” tutur Cahyo.
Dengan dukungan yang tepat, anak dengan disleksia tetap dapat mengembangkan potensinya. Langkah awalnya ialah menghapus stigma dan mengganti cap “malas” atau “bodoh” dengan pemahaman terhadap kebutuhan belajar anak.
(naf/lex)



