YOGYAKARTA, ifakta.co – Wacana penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri terus memunculkan perdebatan. Sebagian pihak menilai langkah tersebut dapat meningkatkan keterkaitan antara kampus dan dunia kerja. Namun, sebagian lainnya mengingatkan bahwa pendidikan tinggi memiliki fungsi yang jauh lebih luas.
Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho termasuk pihak yang mengkritisi pendekatan tersebut. Menurutnya, kebijakan yang menutup prodi karena sepi peminat atau tidak sesuai kebutuhan industri berpotensi membawa dampak jangka panjang.
Ia menilai banyak pihak terlalu menyederhanakan persoalan ketika menjadikan konsep link and match sebagai alasan utama penutupan program studi. Akibatnya, kampus dapat kehilangan independensinya dan hanya mengikuti kebutuhan pasar sesaat.
Iklan
“Menutup program studi karena tidak relevan dengan kebutuhan industri terdengar rasional sampai kita bertanya lebih jauh, sejak kapan pasar kerja menjadi penentu tunggal arah pendidikan tinggi?” ujar Wisnu, Rabu (3/6).
Kebutuhan Industri Terus Berubah
Wisnu menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berangkat dari asumsi bahwa kebutuhan industri dapat dipetakan secara pasti. Padahal, kondisi di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Teknologi berkembang sangat cepat dan terus mengubah kebutuhan dunia kerja.
Karena itu, program studi yang saat ini dianggap relevan belum tentu tetap dibutuhkan beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, bidang yang saat ini sepi peminat bisa saja menjadi penting pada masa depan.
Ia mengutip laporan World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan sekitar 44 persen keterampilan kerja akan berubah dalam lima tahun ke depan.
“Artinya, apa yang hari ini dianggap relevan bisa dengan sangat cepat menjadi usang. Dalam kondisi seperti ini, memaksa kampus mengejar kebutuhan industri justru seperti berlari mengejar bayangan,” tutur Wisnu.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada keterampilan teknis juga menyimpan risiko. Saat ini, perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi mulai mengubah banyak jenis pekerjaan.
Laporan McKinsey & Company memperkirakan hingga 30 persen aktivitas kerja global berpotensi mengalami otomatisasi pada tahun 2030. Oleh sebab itu, kampus perlu berhati-hati jika hanya mengejar keterampilan yang sedang populer.
Menurut Wisnu, strategi tersebut justru dapat menghasilkan lulusan yang cepat kehilangan relevansi ketika teknologi berubah.


