JAKARTA, ifakta.co – Kementerian Perdagangan memperkuat akses ekspor sarang burung walet ke pasar Tiongkok melalui penyelenggaraan China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit di Jakarta, Senin (13/4). Forum ini melibatkan 20 pelaku usaha nasional serta menghadirkan asosiasi pembeli sarang burung walet dari Tiongkok.
Selain membuka peluang pasar, forum tersebut juga menjadi ruang pembahasan terkait temuan otoritas Tiongkok mengenai kandungan aluminium yang melebihi ambang batas pada produk walet Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa forum ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ekspor ke Tiongkok.
Iklan
Di sisi lain, pemerintah juga menindaklanjuti temuan General Administration of Customs China (GACC) yang berdampak pada penghentian sementara ekspor dari 18 perusahaan Indonesia.
“Forum ini memperkuat komitmen bersama sekaligus membahas temuan kandungan aluminium yang menjadi perhatian otoritas Tiongkok,” ujar Puntodewi, melalui siaran pers, Selasa (14/4).
Tiongkok sendiri masih menjadi pasar utama dengan pangsa mencapai 80,15 persen. Namun demikian, nilai ekspor pada 2025 tercatat sebesar USD 380,20 juta atau turun 11,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski tren lima tahunan masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah terus melakukan komunikasi intensif melalui jalur diplomasi perdagangan dan teknis. Langkah ini bertujuan memastikan transparansi serta kesesuaian standar pengujian yang digunakan kedua negara.
Selain itu, pemerintah juga mengapresiasi langkah cepat pelaku usaha yang melakukan audit internal dan memperbaiki sistem produksi, terutama dalam penguatan kontrol kualitas. Pemerintah pun berkomitmen mengawal proses verifikasi agar perusahaan yang terkena suspensi dapat kembali mengekspor.
Peluang Ekspor dan Perbaikan Industri
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah melihat peluang baru untuk menjaga pangsa pasar Indonesia. Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, mendorong pelaku usaha lain untuk mengisi kekosongan ekspor sekitar 300 ton akibat penghentian sementara tersebut.
“Perusahaan yang sudah memenuhi kualifikasi perlu segera bergerak untuk menjaga posisi Indonesia di pasar Tiongkok,” kata Miftah.



