Secara global, Indonesia masih menjadi pemasok terbesar sarang burung walet dengan nilai ekspor mencapai USD 551,56 juta pada 2025 atau berkontribusi 58,31 persen terhadap pasar dunia. Selain Tiongkok, pasar lain meliputi Hong Kong, Singapura, Vietnam, dan Amerika Serikat.
Meski demikian, tekanan masih terasa pada awal 2026. Nilai ekspor Januari–Februari tercatat USD 83,04 juta atau turun 10,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Iklan
Sinergi Perbaikan dan Standar Global
Seiring dengan itu, pemerintah melalui Badan Karantina Indonesia terus melakukan pembenahan, baik di tingkat regulasi maupun pengawasan. Direktur Manajemen Risiko Karantina Hewan, Anes Doni Kriswito, menyebut langkah ini mencakup pemetaan risiko serta peningkatan sistem pengendalian.
Pemerintah juga membuka peluang bagi otoritas Tiongkok untuk meninjau langsung proses pengawasan di Indonesia guna memperkuat kepercayaan.
Di sisi lain, pelaku usaha menilai peningkatan teknologi dan pengendalian produksi menjadi kunci utama. Ketua PPSBI, Boedi Mranata, menekankan pentingnya konsistensi kualitas serta kepastian hasil uji yang diakui kedua negara.
“Kita perlu menyelaraskan mekanisme pengujian agar hasil dari Indonesia dapat diterima di Tiongkok,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pihak importir. Presiden Yan TyTy, Li Li, menyatakan kesiapan untuk menjembatani kebutuhan pasar Tiongkok dengan pelaku usaha Indonesia, termasuk dalam hal standar kualitas dan stabilitas pasokan.
Sementara itu, Ketua China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA), Ma Zhengjun, mendorong pelaku usaha Indonesia untuk aktif mengikuti forum bisnis di Tiongkok. Menurutnya, langkah ini penting agar pelaku usaha memahami kebutuhan pasar dan membuka peluang kerja sama baru.
Melalui sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, Indonesia diharapkan mampu menjaga reputasi sekaligus memperkuat daya saing industri sarang burung walet di pasar global.
(den/jo)



