KONGO, Ifakta.co — Presiden Republik Kongo, Denis Sassou Nguesso, diperkirakan akan kembali mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan presiden yang digelar akhir Minggu. Meski usianya telah menginjak 82 tahun, pemimpin yang telah mendominasi politik negara itu selama beberapa dekade tersebut masih menjadi figur paling kuat dalam kontestasi politik di negara Afrika Tengah yang kaya minyak itu.
Sassou pertama kali merebut kekuasaan melalui kudeta militer pada 1979. Ia sempat kalah dalam pemilihan multipartai pertama di negara itu pada 1992, namun kembali berkuasa setelah konflik bersenjata dan perang saudara pada 1997.
Dengan masa pemerintahan yang hampir mencapai 42 tahun secara total, Sassou menjadi salah satu pemimpin terlama di Afrika, setelah Teodoro Obiang Nguema Mbasogo dari Guinea Ekuatorial dan Paul Biya dari Kamerun.
Iklan
Dalam pemilu kali ini, Sassou menghadapi enam kandidat lain. Namun, proses pemilu menuai kritik dari oposisi karena dinilai kurang transparan. Dua partai oposisi besar memilih memboikot pemilu, sementara sejumlah tokoh oposisi lainnya berada di penjara atau hidup di pengasingan.
Pengamat dari Institute for Security Studies, Remadji Hoinathy, menilai hasil pemilu hampir dapat dipastikan.
“Pemilu ini kemungkinan hanya formalitas. Pertanyaan sebenarnya adalah apa yang akan terjadi setelah era Sassou,” ujarnya.
Reformasi konstitusi pada 2015 membuka jalan bagi Sassou untuk kembali mencalonkan diri. Namun aturan baru juga membatasi masa jabatan presiden maksimal tiga periode lima tahun, yang berarti pemilu kali ini berpotensi menjadi periode terakhirnya kecuali terjadi perubahan konstitusi kembali.
Suksesi Kekuasaan Mulai Dibicarakan
Dalam beberapa kesempatan kampanye, Sassou mulai menyinggung soal regenerasi kepemimpinan. Ia menyatakan bahwa generasinya tengah “menyiapkan fondasi” bagi generasi muda untuk mengambil alih kepemimpinan di masa depan.
Salah satu nama yang sering disebut sebagai calon penerus adalah putranya, Denis-Christel Sassou Nguesso, yang saat ini menjabat Menteri Kerja Sama Internasional dan Kemitraan Publik-Swasta sejak 2021.
Namun sejumlah analis menilai ia belum memiliki pengaruh politik yang cukup kuat.
Konsultan independen yang fokus pada politik Afrika Tengah, Maja Bovcon, menyebut popularitas Denis-Christel masih rendah dan posisinya di dalam partai belum sekuat ayahnya.
“Jika ia dipaksakan naik ke puncak kekuasaan, potensi perebutan kekuasaan di dalam elite politik bisa meningkat,” ujarnya.
Selain putranya, beberapa tokoh lain yang dianggap berpotensi menggantikan Sassou antara lain Jean-Dominique Okemba, kepala Dewan Keamanan Nasional sekaligus keponakan presiden, serta Jean-Jacques Bouya, Menteri Perencanaan Tata Ruang dan Pekerjaan Umum.
Stabil, Tapi Tantangan Ekonomi Masih Berat
Di tengah dinamika politik, Republik Kongo relatif lebih stabil dibanding sejumlah negara Afrika Tengah lain yang belakangan dilanda gejolak politik, termasuk kudeta di Gabon pada 2023.
Perekonomian negara itu mulai menunjukkan pertumbuhan moderat pada 2024 setelah hampir satu dekade tertekan akibat jatuhnya harga minyak global. Industri minyak masih menjadi tulang punggung ekonomi, menyumbang sekitar setengah dari produk domestik bruto serta sekitar 80 persen ekspor nasional.
Rasio utang terhadap PDB yang sempat mencapai 103,6 persen pada 2020 juga turun menjadi sekitar 93,6 persen pada 2024, sebagian berkat program bantuan dari International Monetary Fund.
Meski demikian, manfaat pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara luas oleh masyarakat. Data World Bank menunjukkan lebih dari 52 persen penduduk Kongo masih hidup dalam kemiskinan, sementara tingkat pengangguran kaum muda mencapai sekitar 42 persen.
“Kami membutuhkan layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik,” ujar Frédéric Nkou, seorang warga pengangguran di ibu kota Brazzaville.
“Namun dengan masa jabatan baru ini, rasanya tidak banyak yang akan berubah.”
Di sisi lain, keluarga Sassou juga tengah menghadapi penyelidikan terkait dugaan kepemilikan aset di luar negeri oleh otoritas hukum di Prancis dan Amerika Serikat. Pihak keluarga presiden secara konsisten membantah semua tuduhan tersebut.
(FA/FZA)



