WASHINGTON, Ifakta.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya memiliki pasokan senjata yang hampir tidak terbatas di tengah meningkatkan ketegangan militer di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan media sosial ketika konflik di kawasan tersebut terus memanas dan memicu operasi militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.
Namun klaim itu segera menuai sorotan dari analis pertahanan global. Sejumlah laporan yang menyebut cadangan senjata negara-negara Barat justru mulai tergerus akibat tingginya intensitas penggunaan dalam operasi militer.
Iklan
Laporan Axios menyebutkan bahwa stok senjata milik Amerika Serikat dan sekutunya menurun lebih cepat dibandingkan kapasitas produksi industri pertahanan saat ini .
Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan tekanan besar pada rantai pasokan militer Barat.
“Militer Amerika Serikat mampu untuk selamanya,” tulis Trump dalam pernyataannya. Ia juga menegaskan bahwa negaranya memiliki persenjataan tingkat menengah terbaik di dunia .
Serangan Balasan ke Pangkalan Iran
Pernyataan Trump muncul tidak lama setelah pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan balasan terhadap target militer Iran .
Menurut laporan The Hill, operasi tempur terbaru tersebut menyasar sejumlah pangkalan strategi militer milik Teheran di kawasan Timur Tengah.
Konflik ini awalnya diperkirakan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya memproyeksikan operasi militer tersebut akan selesai dalam waktu sekitar empat minggu .
Namun Trump menegaskan bahwa kapasitas tempur militer AS jauh melebihi perkiraan tersebut .
Kekhawatiran Perang Berkepanjangan
Di negeri Amerika Serikat, kekhawatiran akan konflik jangka panjang semakin meningkat.
Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan sekitar 56 persen warga Amerika memperkirakan perang dapat berlangsung lama . Angka ini mencerminkan meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap kemungkinan penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Sementara itu, Iran dilaporkan telah meluncurkan ratusan rudal dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari strategi militernya.
Serangan intensif tersebut memaksa sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya bekerja tanpa henti untuk mencegat rudal yang masuk.
Sejumlah analis militer menilai strategi Teheran sengaja dirancang untuk menghabiskan amunisi mahal milik negara Barat . Pendekatan ini dikenal sebagai perang atrisi , yaitu strategi melibatkan lawan melalui serangan berulang-ulang dalam jumlah besar.
Industri Pertahanan Kebanjiran Pesanan
Situasi konflik yang memanas juga berdampak langsung pada sektor pertahanan industri.
Pemerintah Amerika Serikat kini meningkatkan prioritas belanja militer secara signifikan. Anggaran bernilai puluhan miliar dolar dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas produksi amunisi dan sistem persenjataan.
Beberapa perusahaan pertahanan besar mulai menerima kontrak baru dari pemerintah federal.
Produsen senjata raksasa Lockheed Martin mendapat tugas mempercepat produksi berbagai jenis rudal untuk memenuhi kebutuhan militer Amerika Serikat.
Kontrak serupa juga diberikan kepada RTX Corporation , yang diminta menyuplai lebih dari seribu rudal jarak jauh setiap tahun untuk memperkuat sistem pertahanan.
Lonjakan pesanan ini membuat saham sektor industri kembali menjadi sorotan para investor global.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang berkepanjangan tetap membawa risiko besar bagi perekonomian dunia . Perang yang berlangsung lama dapat memicu intimidasi terhadap kebijakan ekonomi, termasuk arah suku bunga dan stabilitas pasar global.
(FA/FZA)



