Salah satu bentuk dukungan yang diberikan berupa jaminan pendidikan bagi anak-anak pelanggan yang wafat, agar keberlanjutan pendidikan dan masa depan mereka tetap terjaga.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan seluruh langkah yang dilakukan perusahaan saat ini berfokus pada pemulihan korban serta peningkatan keselamatan perjalanan kereta api ke depan.
“Kami tak hentinya menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan dan keluarga atas kejadian di Stasiun Bekasi Timur. Kami akan terus mendampingi setiap keluarga dan pelanggan dalam proses pemulihan ini. Doa dan kepedulian yang hadir menjadi penguat bagi kami untuk terus menjaga keselamatan ke depan,” pungkas Bobby.
Iklan
Kronologi Singkat Insiden
Kecelakaan maut tersebut terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026. Insiden ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, peristiwa bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper sebuah mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Kendaraan tersebut diketahui merupakan taksi listrik daring Green SM.
Akibat kejadian itu, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan beroperasi di luar jadwal reguler.
Dampak lanjutan dari insiden tersebut membuat petugas menghentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek dengan nomor perjalanan KA 4 relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya.
Kondisi tersebut menyebabkan kereta jarak jauh itu terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti di stasiun.
(faz/fza)




