SURABAYA, ifakta.co –Universitas Airlangga melalui Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) menggandeng Institut Français Indonesia (IFI) untuk menggelar seminar bertajuk The AI Revolution: Technological Frontier and Redefining Learning in Higher Education.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (30/4) di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C. Selain itu, seminar menghadirkan pakar AI dari University Paris-Saclay, Frederic Pascal.
Komitmen FTMM Dorong Inovasi Teknologi
Dekan FTMM, Prof. Retna Apsari, membuka kegiatan dengan menegaskan komitmen fakultas dalam mendorong inovasi teknologi. Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan IFI yang memperluas wawasan sivitas akademika terkait perkembangan kecerdasan buatan.
Iklan
Selain itu, ia menilai kesiapan menghadapi perubahan teknologi menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, FTMM terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif beradaptasi dengan perkembangan tersebut.
“Kami percaya bahwa persiapan diri untuk beradaptasi dengan inovasi dan teknologi adalah keharusan. Melalui diskusi ini, kami berharap para peserta mendapatkan banyak pengetahuan baru dan tentunya memperkuat kolaborasi antara FTMM dan IFI untuk kedepannya,” ujarnya.
AI sebagai Fondasi Sistem Cerdas
Dalam sesi utama, Frederic Pascal memaparkan konsep dasar kecerdasan buatan secara komprehensif. Ia menjelaskan bahwa AI menggabungkan matematika, teknik, dan ilmu komputer untuk membangun sistem cerdas yang mampu meniru cara berpikir manusia.
Selain itu, ia menekankan bahwa AI bekerja melalui proses menerima informasi, menganalisis secara logis, lalu mengambil keputusan.
“AI merupakan disiplin ilmu pengetahuan yang terdiri dari matematika, teknik, dan ilmu komputer untuk membangun sistem cerdas. AI dirancang untuk meniru fungsi kognitif manusia melalui proses menerima informasi, menalar secara logis, serta mengambil tindakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Prancis kini menempati posisi lima besar dunia dalam pengembangan AI. Ia mengaitkan capaian tersebut dengan dukungan pemerintah terhadap riset dan inovasi.
“Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah Perancis dalam memberikan investasi untuk mendorong riset dan inovasi di bidang AI. Dampaknya terlihat pada pertumbuhan bisnis yang ditandai dengan 28 perusahaan unicorn dan 1.100 startup AI,” ucapnya.
Selain itu, Frederic menguraikan tiga tingkatan AI. Narrow AI menangani tugas spesifik. General AI (AGI) mampu menyelesaikan masalah lebih kompleks. Sementara itu, Superhuman AI (ASI) berpotensi melampaui kemampuan manusia dalam kreativitas dan perencanaan.
Penerapan dan Tantangan Etika AI
Di sisi lain, Frederic menunjukkan bahwa AI sudah hadir dalam berbagai sektor. Teknologi ini menggerakkan sistem rekomendasi seperti Netflix, mendukung kendaraan pintar, hingga mengoptimalkan iklan digital di media sosial. Selain itu, dunia bisnis memanfaatkan AI untuk analisis data dan computer vision secara real-time.
Namun demikian, ia menilai perkembangan AI juga memicu perubahan besar, terutama pada dunia kerja. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya penguatan aspek etika dalam pengembangan teknologi.
“Perkembangan AI harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Kita harus memastikan adanya transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan terhadap kebebasan individu. Tanpa aspek in teknologi ini hanya akan menjadi ancaman, bukan solusi bagi kita,” pungkasnya.
(naf/kho)




