SURABAYA, ifakta.co – Persaingan publikasi ilmiah internasional semakin ketat seiring meningkatnya jumlah penelitian dari berbagai negara. Karena itu, peneliti tidak cukup hanya memiliki data kuat, tetapi juga harus mampu menyusun artikel dengan sudut pandang baru yang relevan dengan isu global.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Prof Dr Ratna Dwi Wulandari SKM MKes, menilai banyak peneliti Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk masuk jurnal internasional bereputasi. Namun, sebagian peneliti masih kesulitan mengolah data menjadi artikel yang memiliki nilai kebaruan atau novelty.
Menurut Prof Ratna, salah satu sumber data yang sangat potensial berasal dari Survei Kesehatan Indonesia atau SKI. Data tersebut dinilai mampu membantu peneliti membaca kondisi kesehatan masyarakat Indonesia secara luas dan mendalam.
Iklan
“Pemanfaatan data sekunder yang bersumber dari SKI ini memiliki peluang yang sangat besar untuk bisa menembus publikasi internasional bereputasi,” ujar Prof Ratna dalam gelaran Festival Data Sekunder 2026.
Novelty Jadi Kunci Penting
Prof Ratna menjelaskan bahwa jurnal internasional sangat memperhatikan unsur kebaruan dalam sebuah penelitian. Karena itu, peneliti perlu mencari hubungan atau fenomena baru dari data yang tersedia.
Ia menilai banyak artikel gagal menembus jurnal internasional karena peneliti hanya menyajikan data statistik tanpa analisis mendalam. Padahal, editor jurnal biasanya mencari penelitian yang mampu menjawab persoalan global atau memberikan sudut pandang baru.
Selain itu, peneliti juga perlu menghubungkan hasil riset dengan kebijakan kesehatan, tren penyakit, maupun persoalan sosial yang sedang berkembang di dunia.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat artikel lebih relevan dan memiliki kontribusi ilmiah yang lebih kuat.
Dalam penjelasannya, Prof Ratna menekankan pentingnya ketelitian saat memilih variabel penelitian. Ia menyebut pemilihan variabel sangat menentukan arah analisis dan kualitas artikel ilmiah.
“Kita harus jeli melihat variabel-variabel di dalam SKI. Variabel itu bisa kita kaitkan untuk menjawab isu-isu kesehatan yang sedang menjadi tren di tingkat global,” tambahnya.
Ia kemudian mengingatkan peneliti agar tidak hanya fokus pada angka statistik. Peneliti juga perlu memahami konteks sosial, budaya, hingga kebijakan kesehatan yang berkaitan dengan data tersebut.
Dengan pendekatan itu, artikel ilmiah tidak hanya berisi angka, tetapi juga memiliki narasi akademik yang kuat dan mudah dipahami pembaca internasional.
Data Sekunder Lebih Efisien
Prof Ratna juga menilai penggunaan data sekunder seperti SKI memberi banyak keuntungan bagi peneliti. Selain menghemat waktu dan biaya, data tersebut memiliki cakupan responden yang luas dan menggunakan metodologi nasional yang terstandar.
Karena itu, Prof Ratna menilai hasil penelitian berbasis data SKI memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi untuk mendukung publikasi internasional.
Di sisi lain, penggunaan data sekunder juga memungkinkan peneliti lebih fokus pada analisis dan pengembangan ide penelitian dibandingkan proses pengumpulan data lapangan yang memakan waktu panjang.
Prof Ratna kemudian mendorong para peneliti muda agar lebih percaya diri memulai penulisan artikel ilmiah. Ia menilai banyak penelitian sebenarnya memiliki kualitas bagus, tetapi sering berhenti pada tahap analisis data.
Menurutnya, keberanian menulis menjadi langkah awal penting untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia di tingkat global.
“Dengan metodologi yang tepat dan pembingkaian masalah yang kuat, data sekunder Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata bagi literatur kesehatan dunia,” pungkasnya.
Melalui pemanfaatan data nasional seperti SKI, peneliti Indonesia dinilai memiliki peluang besar menghasilkan karya ilmiah yang relevan, kompetitif, dan mampu bersaing di jurnal internasional bereputasi.
(naf/lex)




