BEKASI, ifakta.co– Kecelakaan kereta api terjadi di Stasiun Bekasi Timur ketika sebuah Kereta Api (KA) Argo menabrak rangkaian KRL yang tengah berhenti di jalur stasiun. Insiden ini memicu pertanyaan serius terkait sistem keselamatan dan prosedur persinyalan yang berlaku di lokasi kejadian.

Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, KRL dalam posisi berhenti, dikarnakan adanya laka yang melibatkan kendaraan green taxi, yang tak jauh berada di depan lajur KRL tersebut. Di saat bersamaan tiba-tiba KA Argo masuk ke jalur yang sama dan terjadi tabrakan.

Belum ada keterangan resmi terkait jumlah korban maupun tingkat kerusakan, namun dugaan awal mengarah pada faktor “human error”.

Iklan

Sorotan utama kini tertuju pada mekanisme pemberian sinyal kepada KA Argo sebelum memasuki stasiun. Dalam operasional perkeretaapian, terdapat beberapa pihak yang memiliki peran krusial dalam memastikan keselamatan perjalanan kereta.

Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam mengatur lalu lintas kereta. PPKA berwenang memberikan izin jalan, menentukan jalur, serta memastikan kondisi lintasan aman sebelum kereta memasuki area stasiun.

Selain itu, petugas rumah sinyal berperan dalam mengoperasikan perangkat persinyalan, baik mekanik maupun elektrik, sesuai instruksi dari PPKA. Sistem ini mengatur indikator visual berupa sinyal merah, kuning, dan hijau yang menjadi acuan utama bagi masinis dalam menjalankan kereta.

Di sisi lain, terdapat pula semboyan 1 atau sinyal tangan yang diberikan oleh petugas di lapangan. Sinyal berupa bendera atau lampu hijau ini menandakan bahwa kereta diperbolehkan masuk ke jalur stasiun.

Dalam kondisi normal, seluruh sistem tersebut harus berjalan selaras. PPKA wajib memastikan jalur yang akan dilalui kereta benar-benar steril, termasuk dari posisi wesel pertama hingga titik berhenti di stasiun.

Namun, dalam kasus ini, muncul pertanyaan krusial: siapa yang memberikan sinyal hijau kepada KA Argo hingga masuk ke jalur yang sedang ditempati KRL? Hingga saat ini, pihak terkait masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan. Dugaan kelalaian prosedur atau miskomunikasi antarpetugas menjadi fokus utama dalam proses investigasi.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya disiplin tinggi dan ketelitian dalam sistem persinyalan kereta api, mengingat satu kesalahan kecil dapat berujung pada kecelakaan besar. (Jo/AMN)