BANJARMASIN, ifakta.co — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri terus mengidentifikasi jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Tim medis mengandalkan pemeriksaan DNA sebagai metode utama karena kondisi fisik sebagian besar jenazah sudah sulit dikenali.
Karodokpol Pusdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti menjelaskan bahwa tes DNA membutuhkan data pembanding dari keluarga kandung korban. Data tersebut berfungsi untuk mencocokkan profil genetik sampel dengan jenazah yang ditemukan di lapangan.
“Jasad korban yang ditemukan sudah sulit kita kenali, sehingga pemeriksaan banyak mengandalkan data pembanding DNA,” ujar Sumy, Kamis (8/10/2026).
Iklan
Selain DNA, Tim DVI menggabungkan sejumlah metode penunjang saat kondisi jenazah memungkinkan. Petugas memeriksa ciri medis serta barang pribadi yang melekat pada tubuh korban.
Sumy menegaskan bahwa tim DVI menetapkan status teridentifikasi apabila menemukan kecocokan pada salah satu metode primer, seperti sidik jari, DNA, atau rekam medis gigi. Sementara untuk metode sekunder, seperti ciri medis dan properti pribadi, petugas membutuhkan minimal dua data pembanding yang cocok.
Proses pengiriman sampel DNA ke Jakarta membuat penanganan membutuhkan waktu lebih lama ketimbang pemeriksaan langsung di rumah sakit. Meski demikian, tim medis DVI di RS Bhayangkara Banjarmasin terus bekerja secara bertahap meneliti setiap jenazah yang masuk.
Hingga Senin (5/10/2026), tim DVI berhasil mengidentifikasi 63 jenazah dari total 80 korban yang berada di RS Bhayangkara Banjarmasin. Saat ini tim DVI masih merampungkan proses identifikasi terhadap 17 jenazah tersisa, termasuk menunggu hasil laboratorium DNA dari Jakarta.
Sumy mengimbau keluarga korban untuk tetap tenang dan bersabar selama proses medis berlangsung. Ia memastikan seluruh personel DVI bekerja secara maksimal guna memberikan kepastian identitas bagi setiap korban.
(yes/her)



