JAKARTA, ifakta.co – Kepolisian Sektor Kalideres, Jakarta Barat, menghadapi rintangan signifikan dalam perburuan seorang wanita terduga pelaku penculikan dan perampasan barang berharga yang menyasar anak-anak.
Kasus yang menimpa dua bocah perempuan di Tegal Alur ini semakin rumit setelah terungkapnya modus operandi pelaku yang menggunakan pelat nomor kendaraan palsu, menyulitkan upaya identifikasi melalui rekaman kamera pengawas (CCTV) yang tersebar di berbagai titik.
Peristiwa tragis ini, yang terjadi pada akhir September lalu, tidak hanya meninggalkan trauma mendalam bagi korban, tetapi juga menyoroti kerentanan anak-anak terhadap kejahatan jalanan.
Iklan
Kompol Rihold Sihotang, Kapolsek Kalideres, mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi tim penyidik adalah penggunaan pelat nomor sepeda motor palsu oleh pelaku.
“Kendala identifikasi pelaku. CCTV (kamera pengawas) semua yang kami cek, enggak bisa, karena dia pakai pelat palsu,” terang Rihold saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Pernyataan ini disampaikan setelah tim penyidik melakukan pengecekan langsung ke Samsat Tangerang untuk mencoba mengidentifikasi pemilik kendaraan melalui pelat nomor yang terekam. Namun, upaya tersebut nihil. “Sudah kami cek (ke Samsat Tangerang),” imbuhnya, menegaskan buntu jalan tersebut.
Meskipun demikian, kepolisian tidak menyerah. Sejumlah rekaman CCTV telah disisir secara intensif untuk melacak pergerakan pelaku. Dari hasil penelusuran visual, pelaku diduga kuat adalah seorang wanita dewasa.
“Iya, sementara begitu (pelaku diduga seorang wanita dewasa). Itu dari CCTV. Kita sudah beberapa kali ikuti beberapa rekaman CCTV di lokasi,” jelas Rihold. Jejak terakhir yang berhasil direkam menunjukkan pelaku bergerak ke arah Tangerang Kota. “Dari CCTV yang kita ikuti beberapa kali ini, (pelaku) udah sampai ke arah, ke daerah Tangerang Kota,” lanjut Rihold.
Selain mengandalkan rekaman pengawas, tim juga telah memeriksa beberapa saksi mata dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara menyeluruh demi mengumpulkan petunjuk lain yang mungkin terlewat.
Detik-detik Penculikan dan Penemuan Kembali
Insiden memilukan ini bermula pada Rabu sore, 30 September, ketika dua bocah perempuan berinisial KI (9) dan CI (8) berangkat menuju rumah tante mereka di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Keduanya hendak mengikuti les dan mengendarai sepeda masing-masing. Sang ibu, Juli (45), menceritakan kecemasannya saat mengetahui kedua putrinya tak kunjung tiba.
“Biasanya, perjalanan cuma lima menit. Tapi setelah setengah jam ditunggu tantenya, anak-anak belum sampai juga,” ujar Juli, Jumat (2/10).
Merasa ada yang tidak beres, pihak keluarga segera memulai pencarian di sepanjang rute yang biasa dilalui KI dan CI. Tak lama kemudian, kedua sepeda milik korban ditemukan tergeletak begitu saja di sebuah gang belakang rumah sang tante, menjadi petunjuk awal bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Pencarian besar-besaran pun dilakukan. Keluarga, warga sekitar, pengurus RT, RW, hingga Lembaga Musyawarah Desa (LMD) setempat bahu-membahu menyisir setiap sudut area. Sekitar pukul 17.50 WIB, anak pertama, KI, ditemukan oleh warga di kawasan Pegadungan, Kalideres.
Pelaku diketahui menurunkan KI di tepi jalan dan mengarahkannya untuk masuk ke permukiman. Saat ditemukan, kondisi KI sangat memprihatinkan; ia tampak syok, linglung, dan bahkan sempat menolak tawaran minum dari warga yang menolongnya, menunjukkan betapa traumatis pengalaman yang baru saja ia alami.
Sementara itu, sang adik, CI, baru berhasil ditemukan jauh setelah waktu Isya, sekitar pukul 19.00 WIB. Ia ditemukan di sebuah rumah kosong di daerah Gempol Payak, Kalideres, yang berlokasi menuju arah Bandara Soekarno-Hatta.
CI juga menunjukkan gejala trauma serupa, menolak berbicara selama hampir satu jam dan hanya mampu memberi isyarat tunjuk tangan, sebelum akhirnya berhasil diajak berkomunikasi di Pos RW setempat.
Berdasarkan pengakuan kedua korban yang berhasil dipulihkan dari syok, pelaku yang mengendarai sepeda motor tersebut tidak hanya menculik, tetapi juga melancarkan intimidasi. Ia mendoktrin KI dan CI agar tidak berinteraksi atau menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain.
Lebih jauh, pelaku juga melucuti barang berharga yang dikenakan kedua korban, termasuk kalung emas milik mereka. Kasus ini bukan hanya tentang penculikan dan perampasan, melainkan juga tentang dampak psikologis yang mendalam terhadap anak-anak yang menjadi korban. Penggunaan pelat palsu dan mobilitas pelaku yang tinggi ke luar wilayah Jakarta Barat menambah kompleksitas penyelidikan.
Hingga kini, kepolisian terus berupaya keras untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku. Tantangan yang ada, terutama terkait dengan minimnya jejak identitas yang valid, tidak menyurutkan semangat petugas. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan jika menemukan informasi atau orang yang mencurigakan, demi mencegah terulangnya insiden serupa dan memberikan rasa aman bagi anak-anak di lingkungan sekitar.
(cin/wal)



