JAKARTA, ifakta.co – Harga minyak dunia kembali menguat pada Kamis (8/10). Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak dari kawasan utama produsen di Timur Tengah.
Risiko pengiriman meningkat setelah serangan terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz semakin sering terjadi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperhitungkan gangguan terhadap distribusi minyak mentah dan bahan bakar.
Harga minyak mentah Brent naik US$1,33 atau 1,33 persen menjadi US$101,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,11 atau 1,26 persen menjadi US$89,39 per barel.
Iklan
Peningkatan serangan terjadi ketika volume minyak mentah yang dikirim dari kawasan Teluk ikut bertambah. Namun, para pengirim harus menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi serta risiko terhadap kargo dan awak kapal.
Badan United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker di utara Qatar terkena sejumlah proyektil dalam serangan terbaru pada Rabu. Peristiwa tersebut juga menimbulkan korban jiwa.
“Pada serangan-serangan sebelumnya, kondisi ini menyebabkan penurunan pengiriman dari Teluk Persia. Kali ini, para produsen tampaknya bersedia mengambil risiko kapalnya rusak karena tidak ada jalur alternatif untuk membawa minyak mereka ke pasar internasional,” kata Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di bank ANZ dikutip Reuters.
Sehari sebelumnya, harga minyak ditutup melemah setelah Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati percepatan pelepasan stok minyak. IEA juga memprioritaskan pasokan diesel melalui rencana yang diluncurkan pada Maret.
Sejumlah pemerintah mengambil langkah tersebut untuk merespons kenaikan harga bahan bakar dan gangguan pasokan yang muncul akibat perang Iran.
Menurut Hynes, minyak yang dilepas IEA kemungkinan berasal dari stok yang sudah masuk dalam rencana pelepasan awal sebanyak 400 juta barel ketika konflik Timur Tengah dimulai.
Dengan demikian, langkah tersebut dinilai bukan sebagai tambahan pengurangan cadangan strategis.
“Pada akhirnya, pelepasan stok strategis dapat menambah pasokan untuk sementara, tetapi tidak menciptakan kapasitas produksi baru,” ujarnya.
Risiko terhadap pengiriman minyak melalui Teluk dan Selat Hormuz terus meningkat sepanjang Oktober. Sebelum perang berlangsung, jalur strategis tersebut menjadi rute pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen pasokan global.
Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz bahkan mencapai tingkat tertinggi pada pekan lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan pekan mana pun sejak perang Iran dimulai.
Di tengah meningkatnya risiko keamanan, negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk justru meningkatkan volume ekspor.
Pergerakan harga minyak juga mendapat dukungan dari perkembangan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data menunjukkan stok minyak AS turun lebih besar dari perkiraan pasar. Persediaan diesel juga mengalami penurunan meski dalam jumlah terbatas.
Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu, persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober.
Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penurunan sebesar 1,7 juta barel.
Sementara itu, persediaan bahan bakar distilasi yang mencakup diesel dan bahan bakar pesawat turun 42 ribu barel menjadi 105,14 juta barel.
Level persediaan tersebut juga tercatat jauh lebih rendah dibandingkan posisi pada periode yang sama dalam lima tahun terakhir.
Kombinasi risiko gangguan pengiriman di Timur Tengah dan penurunan persediaan minyak AS menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak dunia berada dalam tekanan kenaikan pada perdagangan Kamis.
(her/my)




