JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka pada level Rp18.173 per dolar AS, turun 0,09 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.156 per dolar AS.

Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelaku pasar mencermati pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk mencari petunjuk mengenai kebijakan bank sentral AS selanjutnya. Meski demikian, Warsh diperkirakan tidak akan memberikan panduan resmi.

“Selain itu, pasar akan mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed pada hari Kamis, untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek suku bunga,” kata Ibrahim.

Iklan

Data PCE menjadi salah satu perhatian utama karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di AS. Hasil rilis tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed, yang turut menjadi faktor penentu pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Stok BBM bersubsidi diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan selama 16–18 hari. Sementara itu, persediaan BBM jenis lainnya dilaporkan berada di atas batas minimum yang ditetapkan.

Namun, kecukupan stok BBM belum sepenuhnya menghilangkan risiko tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga minyak dunia tetap berpotensi meningkatkan beban anggaran, meskipun pasokan energi dalam negeri berada dalam kondisi memadai.

“Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM memberikan indikasi bahwa risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin bahwa APBN terbebas dari tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia,” imbuhnya.

Dengan demikian, pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama sinyal kebijakan The Fed dan data inflasi AS. Di sisi lain, dinamika harga minyak dunia juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi kondisi fiskal Indonesia dan sentimen pasar terhadap rupiah.

(may/mby)

Iklan