JAKARTA, ifakta.co – Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks, medan perang tidak lagi mengenal sekat. Inilah era Multi-Domain Operations (MDO), di mana informasi dan data menjadi senjata utama yang menghubungkan seluruh kekuatan. Untuk menghadapi tantangan ini, TNI Angkatan Udara (AU) mengambil langkah strategis, mendorong industri pertahanan dalam negeri agar siap tempur di kancah global.

Dorongan ini disampaikan oleh Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf TNI AU (Waasrena KSAU) Marsma TNI Wastum. Ia menekankan pentingnya peningkatan kemampuan pengintegrasian data lintas domain bagi industri pertahanan nasional. Tujuannya jelas: mendukung pengembangan operasi “multidomain” atau Multi-Domain Operations (MDO) yang lebih efektif dan terpadu.

Transformasi Pertahanan: Integrasi Data untuk Keunggulan Operasi

Marsma TNI Wastum menyampaikan hal tersebut saat membuka Rapat Koordinasi Industri Pertahanan Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan Staf Perencanaan dan Anggaran TNI AU (Srenaau) di Jakarta. Menurutnya, industri pertahanan dalam negeri memiliki peran krusial dalam memperkuat kemampuan teknologi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) kita, terutama dalam aspek pengintegrasian data antardomain.

Iklan

Mengapa integrasi data begitu penting? Bayangkan skenario perang modern: pesawat tempur di udara, kapal selam di bawah laut, pasukan darat di lapangan, dan tim siber di dunia maya, semuanya beroperasi secara simultan. Jika setiap unit beroperasi dengan basis data sendiri, koordinasi akan terhambat dan respons lambat. Integrasi data lintas domain memastikan semua entitas ini berbicara dalam bahasa yang sama, berbagi informasi real-time, dan bertindak sebagai satu kesatuan yang kohesif.

Kemampuan ini memungkinkan berbagai domain dalam operasi menggunakan basis data yang terpadu. Hasilnya? Operasi dapat diimplementasikan secara lebih terintegrasi, efisien, dan mematikan bagi lawan. Ini bukan lagi sekadar memiliki Alutsista canggih, melainkan bagaimana Alutsista tersebut mampu bersinergi secara cerdas dan cepat dalam setiap situasi.

Melampaui Teknologi: Pemeliharaan dan Kolaborasi Kuat

Namun, kemampuan teknologi saja tidak cukup. Wastum juga menyoroti pentingnya peningkatan kapabilitas pemeliharaan oleh industri pertahanan. Sebuah sistem pertahanan, secanggih apa pun, tidak akan berguna tanpa pemeliharaan yang prima. Peningkatan kemampuan ini menjamin kesiapan dan keberlanjutan pengoperasian sistem pertahanan dalam jangka panjang, memastikan investasi negara benar-benar memberikan dampak optimal.

Untuk mencapai tujuan besar ini, kolaborasi menjadi kunci utama. “Karenanya kolaborasi TNI AU, industri pertahanan, lembaga riset, dan perguruan tinggi perlu diperkuat sejak perumusan kebutuhan hingga produksi dan sustainment (keberlanjutan dukungan),” tegas Marsma Wastum. Kolaborasi ini harus dimulai sejak tahap paling awal, yakni perumusan kebutuhan operasional TNI AU.

Dengan melibatkan semua pihak sejak dini, pengembangan teknologi pertahanan dapat disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Ini menghindarkan kesenjangan antara apa yang dikembangkan industri dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh prajurit di garis depan, menciptakan solusi pertahanan yang relevan dan efektif.

Merumuskan Solusi untuk Pertahanan Nasional Mandiri

Melalui rapat koordinasi tersebut, TNI AU berharap industri pertahanan, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya dapat duduk bersama. Tujuannya adalah merumuskan solusi konkret untuk memperkuat sistem teknologi pertahanan nasional secara komprehensif. Ini adalah panggilan untuk inovasi dan sinergi demi kedaulatan negara.

Rapat koordinasi ini sendiri dihadiri oleh sejumlah pembicara kunci, termasuk Kasubdisinfonet Dispenau Kolonel Lek Ahmad Irvan dan Direktur Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Dudi Hidayat. Kehadiran perwakilan BRIN menunjukkan komitmen terhadap basis riset dan pengembangan yang kuat.

Menariknya, acara ini juga diramaikan oleh kehadiran pakar internasional seperti Project Manager ASELSAN Cemil Caglar Boke dan Program Manager for Avionic Systems ASELSAN Haluk Şabi. Keterlibatan pihak asing ini membuka wawasan baru dan potensi transfer teknologi, mempercepat langkah Indonesia menuju kemandirian pertahanan yang berbasis pada teknologi Multi-Domain Operations.

Langkah TNI AU ini bukan sekadar dorongan biasa, melainkan sebuah visi strategis untuk masa depan pertahanan Indonesia. Dengan fokus pada integrasi data, pemeliharaan berkelanjutan, dan kolaborasi multi-pihak, Indonesia bersiap menghadapi tantangan medan perang modern dan mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan yang dihormati di kancah global.(wl/wl)

Iklan