JAKARTA, ifakta.co – Banyak orang mengira introvert lebih nyaman menjalani hidup sendirian. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Meski menikmati waktu sendiri, seorang introvert tetap membutuhkan hubungan sosial yang sehat untuk menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan mental.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial yang baik dapat membantu menjaga kesehatan mental, menurunkan tingkat stres, bahkan berkontribusi pada usia yang lebih panjang. Kabar baiknya, manfaat tersebut tidak bergantung pada banyaknya teman yang dimiliki. Yang jauh lebih penting adalah memiliki hubungan yang tulus, saling mendukung, dan memberi rasa aman.

Bagi seorang introvert, membangun koneksi tidak harus melalui pesta besar atau pertemuan yang ramai. Percakapan sederhana dengan sahabat, bergabung dalam komunitas sesuai minat, atau menyempatkan diri menghubungi keluarga sudah cukup untuk menjaga ikatan sosial tetap kuat.

Iklan

Menurut ahli kedokteran geriatri dari University of California San Francisco, Dr. Ashwin Kotwal, setiap orang memiliki kebutuhan sosial yang berbeda. Meski begitu, semua orang tetap memerlukan interaksi dengan orang lain dalam kadar yang sesuai dengan kenyamanannya.

Hubungan Berkualitas Lebih Penting daripada Jumlah Teman

Introvert sering kali merasa lelah setelah bersosialisasi dalam waktu lama. Karena itu, mereka cenderung memilih lingkaran pertemanan yang kecil tetapi dekat.

Pilihan tersebut bukan berarti kurang bersosialisasi. Sebaliknya, hubungan yang lebih mendalam justru mampu memberikan dukungan emosional yang lebih kuat dibanding memiliki banyak kenalan tanpa kedekatan.

Beberapa teman dekat atau anggota keluarga yang selalu hadir saat dibutuhkan sudah mampu memenuhi kebutuhan sosial seorang introvert. Kehadiran mereka menjadi tempat berbagi cerita, meminta saran, hingga mencari dukungan ketika menghadapi masa sulit.

Hubungan seperti ini juga membantu mengurangi rasa kesepian. Para ahli menjelaskan bahwa kesepian yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu stres berkepanjangan. Jika kondisi tersebut terus terjadi, tubuh berisiko mengalami peradangan kronis yang berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti gangguan jantung, demensia, hingga beberapa jenis kanker.

Karena itu, menjaga hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.

Dukungan Membuat Hidup Lebih Ringan

Hubungan sosial bukan hanya soal berbagi cerita. Orang-orang terdekat juga sering memberikan bantuan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, mengantar ketika sakit, membantu menyelesaikan urusan penting, atau sekadar mengirim makanan saat kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk memasak. Bantuan sederhana seperti itu sering kali memberikan dampak besar, terutama ketika seseorang sedang menghadapi masalah kesehatan atau tekanan hidup.

Profesor psikologi dan ilmu saraf dari Brigham Young University, Julianne Holt-Lunstad, menyebut memiliki sekitar empat hingga enam hubungan dekat sudah cukup untuk membangun jaringan sosial yang sehat. Dengan begitu, seseorang tidak bergantung hanya pada satu orang ketika membutuhkan bantuan.

Selain itu, keberadaan orang-orang yang suportif juga membuat seseorang merasa lebih aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Lingkungan Sosial Bisa Mendorong Gaya Hidup Sehat

Hubungan yang positif ternyata juga berpengaruh terhadap kebiasaan sehari-hari.

Orang yang memiliki lingkungan sosial suportif cenderung lebih rutin berolahraga, menjaga pola makan, serta tidak menunda pemeriksaan kesehatan ketika muncul keluhan.

Dukungan tersebut tidak selalu berupa ajakan secara langsung. Terkadang, melihat teman menjalani gaya hidup sehat sudah cukup menjadi motivasi untuk melakukan hal serupa.

Dr. Kotwal menjelaskan bahwa seseorang yang menghargai hubungan sosial biasanya juga terdorong menjaga kesehatannya agar tetap dapat menikmati kebersamaan dengan orang-orang terdekat.

Artinya, hubungan sosial dan kesehatan fisik saling memengaruhi satu sama lain.

Sesekali Berinteraksi dengan Orang Baru Juga Penting

Meski nyaman berada di lingkaran kecil, introvert tetap dianjurkan membuka kesempatan bertemu orang baru.

Tidak harus membangun hubungan yang sangat dekat. Percakapan ringan saat mengikuti kelas hobi, menghadiri seminar, mengantre di rumah sakit, atau berbincang dengan tetangga sudah mampu memberikan manfaat bagi otak.

Profesor perkembangan manusia dan ilmu keluarga dari University of Texas di Austin, Karen Fingerman, menjelaskan bahwa berbicara dengan orang yang belum terlalu akrab membuat otak bekerja lebih aktif. Seseorang perlu memilih kata, memahami lawan bicara, sekaligus menyesuaikan alur percakapan.

Latihan sederhana tersebut membantu menjaga kemampuan kognitif tetap optimal.

Namun, interaksi itu tidak perlu dipaksakan. Introvert tetap bisa memilih situasi sosial yang terasa nyaman dan tidak menguras energi.

Pada akhirnya, menjadi introvert bukan berarti harus menghindari kehidupan sosial. Yang terpenting adalah menemukan bentuk interaksi yang sesuai dengan kepribadian. Hubungan yang hangat, saling mendukung, dan dibangun secara tulus akan memberikan manfaat jauh lebih besar dibanding sekadar memiliki banyak teman tanpa kedekatan. Dengan menjaga kualitas hubungan sosial, introvert tetap bisa menikmati kehidupan yang sehat, seimbang, dan lebih bermakna.

(naf/lex)

Iklan