BANYUMAS, ifakta.co – Pemahaman terhadap keberagaman budaya menjadi bekal penting bagi dunia pendidikan. Kesadaran itu mengemuka dalam Educational Talk Show bertajuk “Bridging the Gap: Cultivating Intercultural Leadership” yang berlangsung di SMA Soteria Mahardika Purwokerto, Rabu (15/7).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua akademisi dari Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, yakni Prof. Dr. James Cohen yang mendalami bidang ESL/Bilingual Education serta Prof. Dr. Teresa A. Wasonga yang memiliki keahlian pada Leadership Educational Psychology and Foundations.
Sekitar 30 perwakilan SMP dari Banyumas dan Purbalingga mengikuti kegiatan itu. Para kepala sekolah dan guru memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya kompetensi lintas budaya dalam proses pembelajaran.
Iklan
Kepala SMP Negeri 1 Patikraja, Aris Budiasono, mengaku memperoleh sudut pandang baru setelah mengikuti seminar tersebut. Menurutnya, konsep sekolah intercultural berbeda dengan sekolah internasional yang selama ini sering masyarakat samakan.
“Kalau sekolah internasional lebih berkaitan dengan sistem yang modern. Sementara sekolah intercultural lebih menekankan penghargaan terhadap keberagaman budaya,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut sangat sesuai dengan kondisi Indonesia yang memiliki latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama yang beragam.
Selain itu, para narasumber juga memberikan banyak contoh nyata mengenai perbedaan budaya Indonesia dan Amerika Serikat. Contoh-contoh tersebut membantu peserta memahami bagaimana budaya memengaruhi cara seseorang berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh yang paling menarik perhatian peserta ialah kebiasaan melakukan kontak mata saat berbicara.
Prof. James Cohen menjelaskan bahwa masyarakat Amerika memandang kontak mata sebagai bentuk rasa hormat, kejujuran, dan kepercayaan diri.
Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia justru menganggap tatapan langsung kepada orang yang lebih tua sebagai tindakan yang kurang sopan.
“Hal-hal seperti itu membuka wawasan kami. Selama ini kami belum memahami bahwa makna sebuah perilaku bisa berbeda pada setiap budaya,” kata Aris.
Ia juga menilai pendidikan intercultural mengajarkan sikap saling menghormati tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Menurutnya, nilai tersebut sangat penting untuk membangun lingkungan sekolah yang harmonis.
Melalui seminar tersebut, peserta mempelajari konsep intercultural competence atau kompetensi lintas budaya. Kemampuan itu membantu guru menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, sekaligus relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21.
Sebagai sekolah intercultural pertama di Purwokerto, SMA Soteria Mahardika mengembangkan sistem pembelajaran yang memadukan Kurikulum Merdeka, Intercultural Education, serta penguatan Global Competencies.
Sekolah juga menghadirkan berbagai program unggulan. Program tersebut meliputi pembelajaran multibahasa, STEM dengan perspektif lintas budaya, hingga Pathways Program yang memperoleh dukungan Career Development Center untuk membantu siswa merancang pendidikan lanjutan dan karier.
Selanjutnya, sekolah membangun kerja sama dengan Nusa Widyantara Indonesia serta Northern Illinois University. Kolaborasi itu bertujuan menghadirkan standar pendidikan bertaraf internasional tanpa mengabaikan nilai budaya Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prof. James Cohen dan Prof. Teresa Wasonga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kualitas pembelajaran di sekolah.
Menurut mereka, keluarga memegang peran utama dalam membentuk karakter anak. Setelah itu, sekolah memperkuat karakter tersebut melalui lingkungan belajar yang mendorong rasa ingin tahu, kepemimpinan, kolaborasi, kreativitas, serta penghargaan terhadap keberagaman.
Kedua akademisi itu juga mengenalkan konsep service culture dan deep culture.
Service culture mencakup aspek yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti keramahan, etika pelayanan, tata krama, dan cara berinteraksi.
Sementara itu, deep culture menyentuh nilai yang lebih mendasar. Aspek tersebut meliputi pola pikir, keyakinan, cara berkomunikasi, cara memandang keberagaman, hingga cara seseorang memahami proses belajar.
Menurut mereka, sekolah perlu mengembangkan kedua aspek tersebut secara seimbang agar peserta didik mampu beradaptasi dengan masyarakat global.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti sesi pemaparan, diskusi, dialog pendidikan, serta berbagai aktivitas kolaboratif. Seluruh rangkaian kegiatan mendorong guru memahami strategi pembelajaran yang mampu membangun karakter, komunikasi, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan empati siswa.
Kepala SMA Soteria Mahardika menegaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperluas jejaring pendidikan di Banyumas. Selain itu, sekolah berharap kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra internasional mampu melahirkan inovasi pembelajaran yang memberi manfaat bagi dunia pendidikan Indonesia.
Melalui pendekatan tersebut, SMA Soteria Mahardika ingin melahirkan generasi yang terbuka terhadap berbagai perspektif, menghargai keberagaman, serta mampu menjadi pemimpin yang berkontribusi pada tingkat lokal maupun global.
(naf/lex)



