BANYUMAS, ifakta.co – Kabupaten Banyumas menyimpan dua situs penting yang berkaitan dengan perjalanan terakhir Raja Mataram, Sunan Amangkurat I, serta awal kepemimpinan putranya, Adipati Anom. Sayangnya, keberadaan kedua petilasan tersebut kini luput dari perhatian sehingga kondisinya memunculkan keprihatinan.
Budayawan Banyumas, Nassirun Purwokerto, mengungkapkan bahwa Petilasan Panembahan Amangkurat dan Petilasan Panembahan Jeneng memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan langsung dengan peristiwa besar dalam perjalanan Kerajaan Mataram pada abad ke-17.
Menurutnya, kedua situs itu menyimpan kisah yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi. Namun, masyarakat luas belum banyak mengenal keberadaan maupun sejarah yang melekat pada lokasi tersebut.
Iklan
Nassirun menjelaskan, Sunan Amangkurat I meninggalkan Keraton Plered setelah pasukan Pangeran Trunojoyo berhasil menguasai pusat pemerintahan Mataram.
Raja kemudian menempuh perjalanan menuju Batavia dengan harapan memperoleh bantuan dari VOC untuk merebut kembali kerajaannya.
Dalam perjalanan panjang tersebut, rombongan melewati wilayah Banyumas. Akan tetapi, kondisi kesehatan Amangkurat I terus menurun sehingga ia singgah beberapa hari di kawasan Ajibarang.
Sebelum berhasil mencapai Batavia, Sunan Amangkurat I mengembuskan napas terakhir di wilayah tersebut.
Masyarakat kemudian mengenal lokasi persinggahan terakhir itu sebagai Petilasan Panembahan Amangkurat.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Adipati Anom yang semula bergabung bersama Trunojoyo akhirnya memilih meninggalkan pemberontakan. Ia kemudian menyusul ayahnya menuju Banyumas.
Menurut kisah dalam Babad Tanah Jawi, ayah dan putra itu bertemu kembali di wilayah Ajibarang. Banyak kalangan meyakini peristiwa tersebut menjadi asal mula nama daerah Ciroyom.
Dalam pertemuan itu, Sunan Amangkurat I meminta Adipati Anom melanjutkan kepemimpinan Kerajaan Mataram.
Namun, sang putra sempat menolak karena merasa belum sanggup memikul tanggung jawab sebagai raja.
Setelah itu, Adipati Anom memilih berdiam di sebuah masjid yang berdiri di kawasan Banyumas sambil menunggu keberangkatan menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
Masjid yang berada di sebelah utara pusat kota lama Banyumas, tepat di tepi selatan Sungai Serayu, kemudian menjadi tempat Adipati Anom memperoleh petunjuk hingga akhirnya menerima amanah sebagai penerus takhta Mataram.
Karena peristiwa itulah masyarakat mengenal lokasi tersebut sebagai Petilasan Panembahan Jeneng. Nama itu merujuk pada makna jumeneng nata, yaitu naik takhta sebagai raja.
Budayawan Soroti Kondisi Situs yang Semakin Terabaikan
Nassirun menceritakan bahwa dirinya mulai menelusuri keberadaan kedua situs tersebut pada 2020.
Proses pencarian berlangsung cukup sulit. Banyak warga, terutama generasi muda, sudah tidak mengetahui letak maupun kisah sejarah kedua petilasan tersebut.
Ia kemudian mencari informasi dari sejumlah warga lanjut usia. Berkat petunjuk mereka, Nassirun akhirnya menemukan kedua situs yang tersembunyi di kawasan Desa Kalisube, Kecamatan Banyumas.
Lokasi itu berada di bawah rimbunnya kebun bambu sehingga tidak mudah terlihat oleh masyarakat.
Saat mengunjungi Petilasan Panembahan Amangkurat, Nassirun melihat kondisi yang kurang terawat.
Sebuah pagar beton berbentuk persegi mengelilingi area petilasan. Sementara itu, rumpun bambu tumbuh lebat pada bagian tengah kawasan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan pentingnya nilai sejarah yang melekat pada lokasi persinggahan terakhir seorang Raja Mataram.
Kondisi yang lebih memprihatinkan justru tampak pada Petilasan Panembahan Jeneng.
Situs yang masyarakat yakini sebagai bekas Masjid Banyumas itu kini berada di tengah kawasan peternakan babi.
Beberapa kandang ternak berdiri mengelilingi area petilasan. Akibatnya, setiap pengunjung harus melewati kompleks kandang terlebih dahulu sebelum mencapai lokasi bersejarah tersebut.
Nassirun mengaku cukup terkejut ketika pertama kali memasuki kawasan itu.
Aroma menyengat dari peternakan langsung terasa sejak memasuki area sekitar situs.
Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap warisan sejarah Banyumas masih sangat terbatas.
Padahal, kedua petilasan tersebut tidak hanya menyimpan jejak perjalanan Sunan Amangkurat I, tetapi juga menjadi saksi penting proses lahirnya kepemimpinan baru Kerajaan Mataram melalui Adipati Anom.
Ia berharap masyarakat, pemerhati budaya, dan pemerintah semakin peduli terhadap keberadaan situs-situs bersejarah tersebut. Dengan pelestarian yang baik, generasi mendatang tetap dapat mengenal perjalanan sejarah Banyumas yang memiliki kaitan erat dengan perjalanan besar Kerajaan Mataram di Pulau Jawa.
(naf/lex)



