BANYUMAS, ifakta.co – Museum Wayang Banyumas bukan sekadar menyimpan koleksi wayang dan perlengkapan seni tradisional. Tempat ini juga menghadirkan jejak tokoh-tokoh penting yang berjasa besar bagi perkembangan budaya Banyumas. Salah satu sosok yang memperoleh ruang penghormatan khusus ialah Ki Soegito Poerbatjarita, dalang legendaris yang meninggalkan warisan berharga bagi dunia pedalangan Banyumasan.

Pengunjung dapat menemukan foto Ki Soegito lengkap dengan busana, blangkon, serta berbagai atribut yang pernah melekat dalam perjalanan seninya. Selain itu, seperangkat gamelan miliknya juga menjadi bagian dari koleksi museum. Kehadiran benda-benda tersebut menjadi pengingat atas dedikasi panjang seorang maestro yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan wayang kulit.

Ki Soegito Poerbatjarita lahir di Banyumas pada 19 September 1940. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berkarya di tanah kelahirannya hingga wafat pada September 2016. Selama puluhan tahun, masyarakat mengenalnya sebagai dalang dengan kemampuan luar biasa yang memberi warna baru bagi perkembangan wayang Banyumasan.

Iklan

Penata Layanan Operasional Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Kris Priyambodo, mengatakan Ki Soegito memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan seni pedalangan, khususnya di wilayah Banyumas Raya.

Menurut Kris, salah satu kekuatan utama Ki Soegito terletak pada kemampuannya mengolah pakeliran. Ia mampu menghadirkan pertunjukan yang kuat dari sisi cerita, iringan musik, hingga ekspresi tokoh-tokoh wayang.

“Suluknya menjadi ciri khas Banyumasan terutama pada sendhonan yang diiringi dengan seluruh instrumental gamelan,” ujar Kris.

Keunikan tersebut membuat setiap pementasan Ki Soegito memiliki identitas yang mudah dikenali penonton. Bahkan, gaya suluk dan pengolahan adegan yang ia tampilkan masih menjadi referensi bagi banyak dalang hingga sekarang.

Pelopor Gaya Pedalangan Banyumasan yang Serbabisa

Bakat seni Ki Soegito tumbuh dari lingkungan keluarga seniman. Ayahnya, Ki Niswan Hadi Wiseno, merupakan dalang terkenal yang sangat populer pada era 1930 hingga 1970-an. Dari lingkungan keluarga itulah kecintaannya terhadap wayang mulai terbentuk sejak usia dini.

Meski lahir dari keluarga dalang, Ki Soegito terus mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar kepada sejumlah maestro. Ia berguru kepada Ki Narto Sabdo dari Semarang dan Ki Surono dari Banjarnegara. Perpaduan pengalaman tersebut kemudian melahirkan karakter pedalangan yang khas dan berbeda.

Kris menjelaskan Ki Soegito juga menjadi pelopor dalam pengembangan teknik sabet wayang di Banyumas. Berbagai gerakan yang ia tampilkan mampu memberi kesan hidup pada setiap tokoh wayang.

“Garap sabet wayang Ki Soegito juga menjadi pelopor di Banyumas. Sosoknya menjadi dalang yang terampil menjungkirbalikkan wayang, sabet abur-aburan Gatotkaca, gendiran, dan sastra pakeliran,” jelasnya.

Kemampuan itu membuat pertunjukan wayang menjadi lebih dinamis sekaligus memikat perhatian penonton dari berbagai kalangan.

Keahlian Ki Soegito ternyata tidak berhenti pada kemampuan mendalang. Ia juga menguasai hampir seluruh proses pembuatan wayang kulit. Mulai dari menggambar pola, nyorek kulit, natah, nyungging, hingga ngeluk wayang, semuanya mampu ia kerjakan sendiri dengan ketelitian tinggi.

Kemampuan lengkap tersebut menjadikannya bukan hanya seorang dalang, melainkan juga seorang perajin dan seniman wayang yang memahami setiap tahapan penciptaan karya.

Kontribusinya terhadap dunia wayang juga mendapat pengakuan di tingkat nasional. Ki Soegito pernah mengemban amanah sebagai Dewan Pembina Sekretariat Nasional Wayang Indonesia (Senawangi). Posisi itu menunjukkan kepercayaan besar terhadap pengalaman, wawasan, dan dedikasinya dalam menjaga kelestarian seni wayang Indonesia.

Kini, nama Ki Soegito Poerbatjarita terus hidup melalui koleksi Museum Wayang Banyumas. Kehadiran foto, pakaian, blangkon, hingga seperangkat gamelan miliknya bukan hanya menjadi pajangan sejarah. Sebaliknya, seluruh koleksi tersebut menjadi pengingat bahwa Banyumas pernah memiliki maestro pedalangan yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan wayang kulit.

Warisan Ki Soegito juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, sekaligus melestarikan seni wayang sebagai bagian penting dari identitas budaya Banyumas dan Indonesia. Dengan demikian, nilai-nilai tradisi yang ia perjuangkan dapat terus bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

(naf/lex)

Iklan