JAKARTA, ifakta.co – Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Setiap ujaran membawa maksud tertentu yang sering kali bergantung pada situasi, hubungan antarpembicara, serta kondisi saat percakapan berlangsung. Karena itu, seseorang tidak cukup hanya memahami arti kata secara harfiah. Pemahaman terhadap konteks juga memegang peranan penting agar pesan tersampaikan dengan tepat.

Cabang ilmu bahasa yang mengkaji persoalan tersebut bernama pragmatik. Bidang linguistik ini membantu seseorang memahami alasan sebuah tuturan memiliki makna berbeda meskipun susunan katanya sama. Berkat kajian pragmatik, komunikasi menjadi lebih efektif sekaligus mampu mengurangi kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Pragmatik

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari penggunaan bahasa berdasarkan konteks. Kajian ini tidak hanya memperhatikan makna kata, melainkan juga melihat siapa penuturnya, kepada siapa tuturan ditujukan, kapan percakapan berlangsung, serta tujuan yang ingin dicapai.

Iklan

Menurut R. Kunjana Rahardi, pragmatik mempelajari kondisi penggunaan bahasa dalam komunikasi manusia yang sangat bergantung pada konteks. Sementara itu, Stephen C. Levinson menjelaskan bahwa pragmatik menaruh perhatian pada hubungan antara bentuk bahasa dan cara pemakaiannya dalam berbagai situasi.

Dengan demikian, kajian ini tidak berfokus pada arti kata saja. Ilmu ini juga berusaha menjelaskan maksud yang tersirat dalam sebuah tuturan sehingga pendengar mampu menangkap pesan secara utuh.

Sebagai contoh, kalimat “Bisa tutup pintunya?” memang berbentuk pertanyaan. Namun, dalam situasi ruangan berpendingin udara, lawan bicara akan menangkap kalimat tersebut sebagai permintaan, bukan sekadar pertanyaan mengenai kemampuan.

Perbedaan Pragmatik dan Semantik

Pragmatik sering kali memiliki keterkaitan dengan semantik karena sama-sama membahas makna. Meski begitu, keduanya memiliki fokus kajian yang berbeda.

AspekPragmatikSemantik
Fokus kajianMakna berdasarkan konteksMakna berdasarkan unsur bahasa
Bergantung pada situasiYaTidak
Memperhatikan penuturYaTidak
Memperhatikan hubungan sosialYaTidak
Contoh“Rumah Makan Padang” berarti restoran yang menjual masakan Padang“Rumah Makan Padang” bermakna rumah makan yang berada di Kota Padang

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pragmatik lebih dekat dengan praktik komunikasi sehari-hari. Sebaliknya, semantik lebih menitikberatkan makna yang melekat pada kata atau kalimat tanpa mempertimbangkan situasi.

Konteks dalam Kajian Pragmatik

Konteks menjadi unsur utama dalam pragmatik. Tanpa konteks, seseorang akan kesulitan memahami maksud sebuah tuturan.

Secara umum, konteks pragmatik mencakup dua bentuk.

1. Konteks Sosial

Konteks sosial muncul karena adanya hubungan antarmanusia dalam suatu kelompok masyarakat. Faktor usia, budaya, kedekatan, hingga kebiasaan berkomunikasi ikut memengaruhi pilihan kata.

Sebagai contoh, seorang siswa tentu menggunakan bahasa yang berbeda saat berbicara kepada guru dibandingkan ketika berbincang dengan teman sebaya.

2. Konteks Sosietal

Konteks sosietal berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosial. Jabatan, kewenangan, ataupun status sosial sering memengaruhi cara seseorang menyampaikan maupun menafsirkan sebuah tuturan.

Misalnya, kalimat “Silakan masuk ke ruangan saya” akan memiliki nuansa berbeda apabila terucap oleh kepala sekolah, atasan kantor, atau teman dekat.

Mengapa Pragmatik Penting?

Pemahaman pragmatik memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Selain membantu seseorang memahami maksud pembicaraan, ilmu ini juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara santun.

Beberapa manfaat pragmatik antara lain:

  • membantu memahami makna tersirat dalam percakapan;
  • Iklan