YOGYAKARTA, ifakta.co – Laporan terbaru World Meteorological Organization (WMO) memunculkan peringatan serius mengenai kondisi iklim dunia dalam beberapa tahun mendatang. Organisasi tersebut memperkirakan periode 2026–2030 berpeluang menjadi rentang waktu dengan suhu rata-rata tertinggi sejak pencatatan modern dimulai.

WMO bahkan menyebut peluang mencapai 86 persen bahwa sedikitnya satu tahun pada periode tersebut akan memecahkan rekor suhu global yang tercipta pada 2024. Selain itu, suhu rata-rata bumi juga berpotensi melampaui ambang kenaikan 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri.

Pakar teknik sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir. Nursetiawan, meminta seluruh pihak menanggapi proyeksi tersebut dengan serius. Menurutnya, perubahan iklim kini sudah memberikan dampak nyata terhadap berbagai sektor, terutama pengelolaan sumber daya air.

Iklan

Ia menjelaskan bahwa peningkatan suhu bumi tidak hanya membuat cuaca terasa semakin panas. Sebaliknya, kondisi tersebut juga mengubah keseimbangan siklus hidrologi yang selama ini mengatur peredaran air di alam.

“Prediksi WMO merupakan peringatan yang sangat serius. Kita sudah merasakan kenaikan suhu udara dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, rekor suhu tertinggi terus berulang dan tren itu masih berpotensi berlanjut,” ujarnya.

Nursetiawan menilai perubahan iklim bukan lagi ancaman yang akan muncul pada masa depan. Fenomena tersebut sudah berlangsung dan memengaruhi kehidupan masyarakat saat ini.

Menurutnya, berbagai negara, termasuk Indonesia, perlu segera menyesuaikan strategi pengelolaan sumber daya air agar mampu menghadapi kondisi iklim yang semakin sulit terprediksi.

Siklus hidrologi sendiri mengatur perjalanan air mulai dari proses penguapan, pembentukan awan, turunnya hujan, penyerapan air ke dalam tanah, hingga aliran menuju sungai dan laut.

Ketika suhu bumi meningkat, seluruh proses tersebut ikut berubah. Akibatnya, pola hujan menjadi tidak menentu, intensitas hujan ekstrem meningkat, sementara distribusi air mengalami banyak perubahan.

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Banjir dan Kekeringan

Nursetiawan menjelaskan bahwa perubahan iklim menghadirkan dua ancaman sekaligus. Pada satu sisi, hujan deras turun dalam waktu singkat sehingga meningkatkan risiko banjir. Namun pada sisi lain, musim kering berlangsung lebih lama karena penguapan meningkat dan cadangan air terus berkurang.

“Curah hujan sekarang jauh lebih ekstrem. Risiko banjir meningkat karena hujan turun sangat lebat dalam waktu singkat. Sebaliknya, kekeringan juga berlangsung lebih lama akibat tingginya penguapan. Kondisi ini membuat pasokan air semakin sulit diprediksi,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut mempersulit pengelolaan sumber daya air di berbagai daerah. Pasalnya, banyak infrastruktur keairan di Indonesia masih mengandalkan data hidrologi masa lalu sebagai dasar perencanaan.

Padahal, perubahan iklim telah mengubah banyak pola alam. Karena itu, data historis tidak lagi mampu menggambarkan kondisi yang akan terjadi pada masa mendatang.

Nursetiawan mendorong pemerintah segera mengubah pendekatan dalam pembangunan sektor sumber daya air. Ia menilai setiap perencanaan bendungan, waduk, irigasi, embung, maupun sistem drainase perlu memasukkan proyeksi perubahan iklim sebagai dasar perhitungan.

Dengan cara tersebut, Indonesia dapat membangun sistem pengelolaan air yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem.

“Perencanaan sumber daya air harus lebih adaptif. Jangan hanya mengandalkan data lama. Setiap kajian dan pembangunan infrastruktur perlu memasukkan proyeksi perubahan iklim agar sistem yang dibangun tetap mampu menjawab tantangan pada masa depan,” tegasnya.

Selain itu, Nursetiawan mengingatkan bahwa upaya adaptasi tidak cukup mengandalkan pembangunan fisik semata. Pemerintah memerlukan dukungan berbagai pihak agar kebijakan berjalan lebih efektif.

Ia menilai kalangan akademisi memiliki peran penting melalui riset dan inovasi teknologi. Sementara itu, sektor swasta dapat membantu pengembangan teknologi pengelolaan air yang lebih efisien. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan menghemat penggunaan air.

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama untuk memperkuat ketahanan air nasional di tengah ancaman perubahan iklim global.

“Adaptasi terhadap perubahan iklim membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak bersama. Riset, teknologi, kebijakan, serta kesadaran publik perlu berjalan seiring agar sistem pengelolaan air Indonesia mampu menghadapi tantangan iklim yang semakin ekstrem,” pungkasnya.

(naf/lex)

Iklan