JAKARTA, ifakta.co – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax tidak hanya berdampak pada sektor transportasi. Dunia agribisnis juga ikut merasakan tekanannya karena hampir seluruh rantai produksi pangan masih bergantung pada mobilitas kendaraan dan distribusi berbasis BBM.

Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian UGM, Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc., menilai perubahan harga energi akan memicu kenaikan biaya operasional dari proses produksi hingga pemasaran. Akibatnya, pelaku usaha harus mencari cara agar bisnis tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.

“Pasti dampaknya besar karena mobilitas pangan menggunakan transportasi yang membutuhkan BBM. Pada akhirnya biaya bertambah dan keuntungan pelaku usaha berkurang,” ujarnya.

Iklan

Menurut Hani, aktivitas agribisnis membentuk satu rantai yang saling berkaitan. Proses produksi membutuhkan distribusi bahan baku, hasil panen memerlukan pengangkutan, sementara pemasaran bergantung pada jaringan logistik. Ketika biaya transportasi naik, seluruh tahapan tersebut ikut menanggung beban tambahan.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya tidak berhenti pada pengiriman hasil pertanian. Pascapanen, penyimpanan, hingga pemasaran juga memerlukan dukungan energi sehingga seluruh value chain ikut menerima dampaknya.

“Di dalam rantai pemasaran atau value chain, mulai dari produksi, pascapanen, distribusi hingga pemasaran pasti terdampak dengan adanya kenaikan BBM ini,” katanya.

Pelaku Usaha Pilih Efisiensi Sebelum Naikkan Harga

Meski biaya operasional meningkat, Hani menilai pelaku usaha tidak selalu langsung menaikkan harga produk di tingkat konsumen. Sebaliknya, banyak pelaku usaha memilih mempertahankan harga jual agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pelanggan tidak beralih ke produk lain.

Mereka biasanya menekan margin keuntungan, memperbaiki efisiensi operasional, atau menyesuaikan ukuran dan kualitas produk sebelum mengambil keputusan menaikkan harga.

“Kadang lebih mudah mengurangi kualitas atau ukuran produk daripada langsung menaikkan harga karena pelaku usaha juga mempertimbangkan respons konsumen,” jelasnya.

Menurut Hani, sektor distribusi menjadi bagian yang paling rentan menghadapi kenaikan harga BBM. Semakin jauh jarak pengiriman dari sentra produksi menuju pasar, semakin besar biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.

Kondisi tersebut juga memberi tekanan lebih besar kepada usaha kecil dan masyarakat berpendapatan rendah. Kelompok ini memiliki ruang yang terbatas untuk menyesuaikan biaya sehingga keuntungan lebih cepat tergerus.

Ia mencontohkan pelaku usaha pengolahan kopi yang harus menghadapi kenaikan biaya produksi. Namun, mereka belum tentu bisa langsung menaikkan harga jual karena tetap harus mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan konsumen.

“Input produksi meningkat, tetapi pelaku usaha belum tentu bisa langsung menaikkan harga karena ada pertimbangan daya beli konsumen,” tuturnya.

Selain mendorong efisiensi, Hani meminta pemerintah menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi pelaku usaha kecil serta kelompok masyarakat yang paling terdampak. Dukungan yang tepat sasaran akan membantu mereka menjaga keberlangsungan usaha di tengah kenaikan biaya energi.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya memperkuat produksi pangan nasional. Menurutnya, peningkatan produksi dalam negeri akan membuat Indonesia lebih siap menghadapi gejolak harga energi sekaligus mengurangi dampak fluktuasi ekonomi global.

“Ketika kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka pengaruh fluktuasi harga global juga dapat ditekan,” pungkasnya.

(naf/lex)

Iklan