BEIJING, ifakta.co – Pemerintah China dilaporkan menutup sebagian ruang udaranya selama 40 hari ke depan, memicu perhatian luas di sektor penerbangan internasional. Kebijakan ini disebut akan berdampak pada sejumlah rute penerbangan, baik domestik maupun internasional, yang melintasi wilayah udara tersebut.

Penutupan ruang udara ini diduga berkaitan dengan kegiatan militer dan uji coba tertentu yang membutuhkan pengamanan wilayah udara secara ketat. Otoritas setempat belum merinci secara penuh lokasi dan cakupan area yang terdampak, namun maskapai penerbangan telah diminta melakukan penyesuaian rute.

Sejumlah maskapai internasional mulai mengalihkan jalur penerbangan guna menghindari wilayah yang ditutup. Langkah ini berpotensi menambah durasi perjalanan serta meningkatkan biaya operasional, terutama untuk penerbangan jarak jauh.

Iklan

Pengamat penerbangan menilai, kebijakan ini bukan hal baru bagi China, yang kerap menutup wilayah udara tertentu dalam rangka latihan militer atau pengujian teknologi.

Namun, durasi penutupan yang mencapai 40 hari tergolong cukup panjang dan berpotensi menimbulkan efek domino terhadap jadwal penerbangan global.

Selain sektor penerbangan, penutupan ruang udara ini juga dapat memengaruhi distribusi logistik udara dan rantai pasok, terutama untuk pengiriman barang bernilai tinggi yang mengandalkan jalur udara.

Hingga kini, otoritas penerbangan China belum memberikan penjelasan rinci mengenai dampak penuh dari kebijakan tersebut. Namun, maskapai dan pelaku industri diminta untuk terus memantau perkembangan serta melakukan penyesuaian operasional sesuai kebutuhan.(Jo)