YOGYAKARTA, ifakta.co – Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Tekanan sosial yang muncul berulang kali juga dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk otak. Karena itu, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba mencari pendekatan alternatif untuk menghadapi dampak stres sosial berkepanjangan.

Tim tersebut mengangkat daun kelor (Moringa oleifera) sebagai bahan utama penelitian. Mereka ingin melihat sejauh mana tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia itu mampu membantu menjaga kesehatan otak ketika tubuh menghadapi stres sosial kronis.

Riset tersebut berangkat dari persoalan bullying yang masih muncul di lingkungan pendidikan. Perundungan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pelaku bisa melontarkan hinaan, melakukan kekerasan fisik, atau mengucilkan korban dari lingkungan sosial.

Iklan

Jika tekanan berlangsung terus-menerus, tubuh dapat mengalami stres sosial kronis. Kondisi ini bukan sekadar rasa tertekan yang muncul sesaat. Tubuh dapat mempertahankan respons stres dalam waktu lama sehingga memengaruhi berbagai fungsi biologis.

Salah satu mekanismenya berkaitan dengan hormon kortisol. Tubuh melepaskan hormon tersebut ketika menghadapi tekanan. Namun, paparan kortisol dalam jangka panjang dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak.

Hipokampus menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian. Bagian otak tersebut berperan dalam pembentukan serta penyimpanan memori. Karena itu, stres kronis berpotensi memengaruhi kemampuan mengingat dan konsentrasi.

Berdasarkan persoalan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM melakukan penelitian menggunakan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS). Tim ini terdiri atas mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan.

Mereka adalah Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Fakultas Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Fakultas Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Fakultas Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Fakultas Kedokteran.

Melalui riset itu, tim ingin melihat respons otak terhadap tekanan sosial sekaligus menguji potensi ekstrak daun kelor.

Daun Kelor dan Mekanisme Perlindungan Sel Saraf

Nisrina menjelaskan tim menggunakan mencit sebagai hewan uji. Para peneliti kemudian memberikan induksi stres dengan model yang menggambarkan tekanan sosial secara berulang.

Dalam model CSDS, peneliti mempertemukan mencit “korban” dengan mencit “agresor”. Mencit agresor memiliki karakter dominan dan agresif. Sementara itu, mencit korban menghadapi interaksi tersebut secara berulang dalam kondisi yang terkontrol.

Pola tersebut memungkinkan peneliti menciptakan kondisi stres sosial kronis. Tim kemudian mengamati perubahan pada fungsi memori spasial serta kondisi sel saraf.

“Kondisi inilah yang kemudian digunakan sebagai representasi biologis dari dampak bullying jangka panjang pada manusia, khususnya untuk mengamati perubahan pada memori spasial dan tanda-tanda kerusakan sel saraf,” kata Nisrina (9/9).

Setelah menciptakan model stres, tim memberikan ekstrak daun kelor secara oral. Peneliti memberikan ekstrak tersebut pada beberapa tahapan, yakni sebelum, selama, dan setelah induksi stres.

Selanjutnya, tim membandingkan respons pada setiap kelompok. Cara tersebut membantu peneliti melihat kemampuan ekstrak kelor dalam memberikan efek perlindungan terhadap perubahan akibat stres kronis.

Pemilihan kelor bukan tanpa alasan. Syakira menjelaskan tanaman tersebut memiliki sejumlah senyawa bioaktif. Salah satunya ialah kuersetin.

Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan. Antioksidan dapat membantu tubuh menghadapi stres oksidatif yang muncul ketika terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan sistem pertahanan antioksidan.

Menurut Syakira, stres oksidatif turut berperan dalam mekanisme kerusakan neuron akibat stres kronis. Tim kemudian menggunakan kadar malondialdehida (MDA) sebagai salah satu parameter untuk mengukur kondisi tersebut.

“Kuersetin pada daun kelor berfungsi sebagai antioksidan yang membantu menetralkan stres oksidatif,” jelas Syakira.

Selain kandungan bioaktif, tim juga mempertimbangkan aspek ketersediaan bahan. Masyarakat Indonesia relatif mudah menemukan tanaman kelor. Harganya pun relatif terjangkau.

Karena itu, kelor memiliki peluang sebagai bahan penelitian untuk pengembangan pendekatan neuroprotektif yang lebih mudah terjangkau. Meski demikian, tim masih perlu membuktikan efektivitasnya melalui rangkaian penelitian.

“Penelitian yang mengkaji pemanfaatan bahan alam lokal untuk merespons dampak tekanan sosial masih jarang dilakukan,” tegas Syakira.

Dosen pembimbing penelitian, drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D., berharap riset tersebut dapat memberikan gambaran mengenai potensi ekstrak daun kelor sebagai agen neuroprotektan.

Tim akan menilai efektivitas ekstrak melalui beberapa parameter. Pengukuran kadar MDA menjadi salah satunya. Selain itu, peneliti juga akan mengamati kondisi neuron pada hipokampus melalui pemeriksaan histopatologi.

Tim turut melihat kemampuan mencit dalam menjalankan fungsi memori spasial. Dengan begitu, penelitian tidak hanya melihat satu indikator, tetapi menggabungkan sejumlah parameter untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

Riset tersebut juga mencakup karakterisasi ekstrak daun kelor. Tim kemudian menghubungkan hasil karakterisasi dengan gambaran stres oksidatif, perubahan neuron, serta fungsi memori.

“Kami berharap penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda,” harap Syakira.

(naf/lex)

Iklan