JAKARTA, ifakta.co – Harga emas dunia atau XAU/USD menghadapi potensi tekanan pada perdagangan Senin, 7 September 2026. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan penurunan menuju area support USD4.365 hingga USD4.331.

Geraldo menyusun proyeksi tersebut berdasarkan pergerakan teknikal XAU/USD pada time frame harian. Harga emas gagal menembus resistance USD4.440 dan membentuk pola ABC Correction.

Pola tersebut menunjukkan bahwa emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan koreksi dalam jangka pendek. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan XAU/USD di sekitar level support dan resistance utama.

Iklan

Menurut Geraldo, kegagalan harga menembus resistance USD4.440 menjadi salah satu sinyal penting dalam menentukan arah emas berikutnya. Level tersebut masih menjadi penghalang bagi XAU/USD untuk kembali melanjutkan penguatan.

“Ketika harga kembali tertahan di bawah resistance, tekanan jual berpotensi meningkat dan mendorong XAU/USD menuju area support berikutnya,” ungkap Geraldo dalam analisis hariannya.

Selain resistance USD4.440, pola ABC Correction juga memperkuat indikasi koreksi harga emas. Pola tersebut mencerminkan posisi XAU/USD yang masih berada dalam fase koreksi setelah mencatat pergerakan sebelumnya.

Jika tekanan jual terus meningkat, harga emas berpotensi menguji support USD4.365 terlebih dahulu. Apabila level tersebut tidak mampu menahan tekanan, XAU/USD berpeluang melanjutkan penurunan menuju USD4.331.

Sebaliknya, emas masih memiliki peluang rebound jika mampu bertahan di zona support. Namun, Geraldo menilai skenario koreksi tetap perlu menjadi perhatian selama XAU/USD belum berhasil menembus kembali resistance USD4.440.

Pada perdagangan pagi, harga emas berada di sekitar USD4.410 per troy ons. Dari sisi fundamental, pasar menghadapi sejumlah sentimen yang bergerak berlawanan dan berpotensi memengaruhi pergerakan emas.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut berkaitan dengan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta gangguan di kawasan Selat Hormuz.

Kenaikan harga energi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan konsumsi. Selanjutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga dapat membatasi ruang penguatan emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendukung dolar AS sekaligus meningkatkan imbal hasil atau yield Treasury AS.

Kenaikan yield Treasury kemudian meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas dapat menghadapi tekanan ketika yield meningkat.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan dolar AS dan yield Treasury. Jika keduanya terus menguat seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, tekanan terhadap harga emas berpotensi semakin besar.

Dalam skenario tersebut, XAU/USD berpeluang menguji kembali area support USD4.365 hingga USD4.331.

“Sebaliknya, pelemahan dolar AS dan yield Treasury dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat,” papar Geraldo.

Selain pergerakan dolar AS dan yield Treasury, pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat. Setelah data tenaga kerja AS menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, perhatian investor beralih ke Consumer Price Index (CPI).

Data CPI menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk melihat perkembangan tekanan harga di AS. Data tersebut juga dapat memengaruhi perkiraan arah kebijakan The Fed pada September.

Bagi pasar emas, hasil CPI dapat mengubah ekspektasi terhadap suku bunga. Jika inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan yield Treasury. Pada akhirnya, penguatan kedua aset tersebut dapat menambah tekanan terhadap XAU/USD.

Sebaliknya, perlambatan inflasi dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Skenario tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi emas dan membuka peluang pemulihan dari area support.

Selain faktor inflasi dan suku bunga, perkembangan konflik AS-Iran juga menjadi perhatian pasar. Eskalasi risiko geopolitik dapat meningkatkan volatilitas harga emas karena investor biasanya mencari aset safe haven ketika ketidakpastian meningkat.

Namun, kenaikan harga minyak akibat konflik juga dapat memberikan dampak berbeda terhadap emas. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Dengan memperhitungkan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures melihat XAU/USD masih menghadapi risiko pelemahan pada perdagangan Senin.

Geraldo memperkirakan harga emas dapat bergerak menuju support USD4.365 hingga USD4.331 setelah XAU/USD gagal menembus resistance USD4.440 dan membentuk pola ABC Correction.

Pelaku pasar juga perlu memperhatikan respons harga ketika XAU/USD mendekati area support tersebut. Selama emas belum mampu melewati resistance USD4.440, peluang koreksi masih terbuka.

Selanjutnya, data CPI AS, pergerakan dolar AS dan yield Treasury, serta perkembangan konflik AS-Iran akan menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan arah harga emas berikutnya.

“Secara keseluruhan, skenario bearish masih menjadi perhatian untuk pergerakan XAU/USD hari ini. Area USD4.365-USD4.331 menjadi target pelemahan terdekat, sedangkan USD4.440 merupakan resistance penting yang perlu

(den/jo)

Iklan