BANYUMAS, ifakta.co – Akses transportasi ikut menentukan kelancaran pendidikan pelajar di Banyumas. Sebab, sebagian anak masih menghadapi kendala perjalanan menuju sekolah, terutama mereka yang tinggal di wilayah pinggiran, pegunungan, dan kawasan tanpa angkutan umum.

Kondisi tersebut bahkan dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan. Anak yang kesulitan mencapai sekolah berpotensi sering terlambat. Dalam kondisi tertentu, kendala perjalanan juga dapat mendorong anak berhenti sekolah.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Taryono, menyebut transportasi sebagai salah satu faktor penting dalam pemerataan pendidikan. Menurutnya, pemerintah perlu melihat transportasi bukan sekadar layanan mobilitas.

Iklan

“Betul sekali bahwa transportasi memang bukan satu-satunya faktor terhadap kelancaran pendidikan, tapi menjadi salah satu faktor penting, menjadi indikator juga. Karena selain kami memandang bahwa transportasi ini selain sebagai layanan, transportasi ini juga sebagai suatu intervensi pemerintah di dalam untuk mewujudkan pemerataan pembangunan,” kata Taryono.

Selain itu, pihaknya menemukan kasus anak putus sekolah dan anak rentan putus sekolah yang berkaitan dengan persoalan transportasi.

“Banyak kejadian anak putus sekolah atau mungkin anak rentan putus sekolah yang kemudian salah satu alasannya hasil kita mendeteksi adalah karena kesulitan transportasi,” ujarnya.

Persoalan tersebut terutama muncul pada wilayah yang belum memiliki angkutan umum. Kondisi jalan juga ikut memengaruhi perjalanan siswa. Karena itu, pemerintah mencoba menghadirkan layanan Bus Sekolah Gratis sebagai salah satu solusi.

Menurut evaluasi Dinas Pendidikan Banyumas, layanan tersebut membantu meningkatkan kehadiran siswa. Selain itu, bus sekolah juga membantu mengurangi keterlambatan siswa saat mengikuti kegiatan belajar.

“Program ini juga membantu penanganan anak tidak sekolah maupun anak yang rentan putus sekolah. Di sisi lain, orang tua turut merasakan manfaat berupa penghematan pengeluaran untuk kebutuhan transportasi anak,” kata Taryono.

Bus Sekolah Juga Tekan Risiko Kecelakaan Pelajar

Selain membantu akses pendidikan, Pemerintah Kabupaten Banyumas menggunakan layanan bus sekolah untuk meningkatkan keselamatan pelajar. Kepala UPTD Pengelola Sarana Prasarana Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas, Muhammad Soleh Wibowo, mengatakan program tersebut juga merespons tingginya risiko kecelakaan yang melibatkan pelajar.

“Selain mendekatkan para siswa-siswi dengan sekolah, kita juga mengurangi angka kecelakaan di jalan. Tingkat angka kecelakaan di jalan yang dialami pelajar cukup tinggi,” ujar Soleh.

Menurutnya, sebagian pelajar belum memenuhi usia untuk mengendarai kendaraan bermotor. Mereka juga belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Karena itu, orang tua dapat memanfaatkan bus sekolah sebagai alternatif perjalanan yang lebih aman.

Soleh juga meminta orang tua tidak memberikan sepeda motor kepada anak yang belum cukup umur. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas.

Selain aspek keselamatan, bus sekolah membantu membentuk kebiasaan disiplin. Para siswa harus tiba di titik penjemputan sejak pagi. Mereka bahkan perlu bersiap sekitar pukul 05.30 hingga 06.00 WIB sesuai jadwal rute masing-masing.

Dengan kebiasaan tersebut, siswa belajar mengatur waktu. Mereka juga dapat memanfaatkan perjalanan untuk berinteraksi dengan teman dari sekolah atau kelas berbeda.

Bahkan, waktu perjalanan dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri. Mereka dapat membaca buku atau meninjau kembali materi pelajaran sebelum tiba di sekolah.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Banyumas berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menentukan wilayah layanan. Kedua instansi melakukan pemetaan berdasarkan kebutuhan siswa dan kondisi transportasi setempat.

Dinas Perhubungan juga melakukan survei sebelum menetapkan rute. Petugas melihat kondisi jalan, lokasi sekolah, serta jumlah calon pengguna.

“Survei tersebut menentukan apakah wilayah tersebut layak dilalui layanan bus sekolah gratis atau tidak,” kata Soleh.

Pertimbangan itu cukup penting. Armada bus memiliki ukuran tertentu sehingga tidak semua ruas jalan mampu menampung kendaraan tersebut. Pemerintah kemudian menyesuaikan jenis armada dengan kondisi rute.

Saat ini, Pemkab Banyumas mengoperasikan enam armada Bus Sekolah Gratis. Dua bus medium melayani rute Kemawi–Somagede–Banyumas. Kemudian, dua unit lain melayani rute Pasinggangan–Binangun–Banyumas.

Selain itu, satu armada jenis elf melayani kawasan Patikraja. Rute tersebut mencakup Karangendep, Karanganyar, Notog, hingga Patikraja.

Pada Agustus 2026, pemerintah juga membuka rute baru. Satu bus medium melayani jalur Kalibagor–Suro–Sokaraja–Kaliori hingga Banyumas.

Dengan tambahan rute tersebut, semakin banyak pelajar memiliki pilihan transportasi menuju sekolah. Namun, pemerintah tetap perlu menyesuaikan layanan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Taryono berharap layanan bus sekolah dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak wilayah. Menurutnya, akses transportasi yang lebih baik dapat membantu pemerintah memperkuat pemerataan pendidikan di Banyumas.

Soleh juga mengajak pelajar dan orang tua memanfaatkan layanan tersebut. Terutama, bagi keluarga yang tinggal dalam cakupan rute Bus Sekolah Gratis.

“Kami berpesan kepada orang tua, kalau wilayahnya dilewati dan dilayani bus sekolah gratis ini, silakan digunakan dan dimanfaatkan. Jangan memberikan kendaraan kepada putra-putrinya yang belum cukup umur untuk memiliki surat izin mengemudi,” ujarnya.

Iklan