NGANJUK, ifakta.co – Suasana haru menyelimuti halaman Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Nganjuk, Kamis (10/9) malam. Puluhan wartawan bersama elemen masyarakat berkumpul dalam aksi solidaritas wartawan Nganjuk untuk mendoakan lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Dengan menyalakan lilin, para peserta mengikuti doa bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap lima jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Aksi tersebut digagas PWI Kabupaten Nganjuk bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Nganjuk dan insan pers setempat. Sejumlah jajaran kepolisian juga hadir, di antaranya Kasat Intelkam Polres Nganjuk AKP Joko Sutrisno dan Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadhi.
Iklan
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta larut dalam doa. Tidak ada sekat organisasi maupun profesi. Para peserta duduk bersama dan memanjatkan harapan agar kelima jurnalis segera ditemukan dalam kondisi selamat.
“Semua peserta duduk sama rata dan larut dalam doa, memohon keselamatan bagi rekan-rekan seprofesi,” tutur Etna Laila, salah satu insan pers yang mengikuti kegiatan tersebut.
Doa bersama dipimpin Gus Chamid dari Ponpes Berbek, Nganjuk. Dalam suasana penuh keprihatinan, doa ditujukan bagi keselamatan lima jurnalis sekaligus kekuatan bagi keluarga yang hingga kini masih menunggu kabar.
Kelima jurnalis yang masih menjadi bagian dari pencarian tim SAR gabungan tersebut masing-masing M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews.id, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis independen.
Ketua PWI Kabupaten Nganjuk Bagus Jatikusumo mengatakan, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan itu merupakan bentuk solidaritas dan keprihatinan insan pers Nganjuk terhadap para jurnalis yang sedang menghadapi situasi penuh risiko, sekaligus kepada keluarga mereka.
“Aksi ini merupakan wujud keprihatinan sekaligus solidaritas mendalam dari insan pers Nganjuk kepada lima wartawan dan keluarga mereka,” kata Bagus.
Dalam kesempatan tersebut, PWI Nganjuk juga membacakan pernyataan sikap sebagai bentuk dukungan terhadap proses pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan.
PWI Nganjuk mendorong Basarnas, TNI, Polri, pemerintah, serta seluruh unsur yang terlibat agar terus mengoptimalkan pencarian terhadap kelima jurnalis tersebut.
“PWI Nganjuk bersama seluruh insan pers menyampaikan duka, keprihatinan, dan solidaritas yang mendalam. Kami berharap lima rekan kami segera ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Bagus.
Menurutnya, peristiwa tersebut kembali mengingatkan publik bahwa profesi jurnalistik memiliki risiko besar. Dalam menjalankan tugas, wartawan kerap berada di lokasi bencana, wilayah konflik, kawasan rawan, hingga menghadapi kondisi cuaca ekstrem untuk mendapatkan informasi dan menyampaikannya kepada masyarakat.
Namun, kata Bagus, keberanian menjalankan tugas jurnalistik tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan.
Tidak ada berita seharga nyawa. Keselamatan wartawan harus menjadi perhatian bersama, baik insan pers, perusahaan media, organisasi profesi, maupun pemerintah,” tegasnya.
Aksi solidaritas tersebut sekaligus menjadi pesan kuat dari insan pers Nganjuk bahwa di balik setiap berita terdapat perjuangan seorang jurnalis. Ketika seorang wartawan menghadapi risiko dalam menjalankan tugas, solidaritas sesama insan pers dan dukungan seluruh pihak menjadi sangat penting.
Hingga kini, harapan agar kelima jurnalis tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat terus dipanjatkan. Lilin yang menyala di halaman Sekretariat PWI Nganjuk menjadi simbol doa sekaligus pengingat bahwa keselamatan manusia harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pemberitaan.
(may/may)



