JAKARTA, ifakta.co – Menemukan belatung setelah menyantap makanan tentu bisa membuat siapa pun langsung merasa jijik. Apalagi, seseorang mungkin baru sadar setelah beberapa suapan masuk ke mulut. Situasi tersebut memang terasa mengkhawatirkan. Namun, kamu tidak perlu langsung panik.

Larva lalat yang ikut tertelan bersama makanan tidak otomatis menyebabkan infeksi serius. Bahkan, sejumlah larva yang masuk bersama makanan tidak mampu bertahan dalam saluran pencernaan manusia. Kondisi tersebut juga berbeda dengan myiasis, yaitu infeksi larva lalat pada jaringan tubuh.

Meski begitu, kamu tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh. Makanan yang sudah mengandung belatung biasanya menunjukkan masalah pada kebersihan atau kualitas makanan. Karena itu, risiko gangguan kesehatan dapat berasal dari kuman yang ikut mencemari makanan.

Iklan

Lantas, apa yang sebaiknya kamu lakukan setelah tidak sengaja makan belatung? Berikut beberapa langkah yang bisa kamu ikuti.

1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Panik

Rasa jijik biasanya muncul secara spontan. Kamu mungkin langsung merasa mual setelah melihat belatung pada makanan.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa tubuh akan mengalami masalah serius. Reaksi mual juga bisa muncul karena rasa jijik dan kecemasan.

Karena itu, tenangkan diri terlebih dahulu. Berhenti mengonsumsi makanan tersebut dan perhatikan kondisi tubuh.

Selanjutnya, kamu bisa membersihkan mulut dengan berkumur menggunakan air. Langkah sederhana ini dapat membantu menghilangkan sisa makanan yang masih berada di mulut.

2. Hentikan Konsumsi Makanan yang Sama

Jangan melanjutkan makanan yang sudah mengandung belatung. Buang makanan tersebut, terutama jika makanan sudah menunjukkan tanda kerusakan.

Belatung dapat menjadi petunjuk bahwa makanan sudah mengalami pembusukan atau penyimpanan yang tidak tepat. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan peluang kontaminasi mikroorganisme.

Karena itu, jangan mencoba mengambil belatung lalu meneruskan makanan yang sama. Langkah tersebut tidak menjamin makanan tetap aman.

Jika makanan berasal dari kemasan atau produk tertentu, simpan informasi produk untuk berjaga-jaga. Catatan tersebut dapat membantu jika kamu kemudian mengalami gejala gangguan pencernaan.

3. Minum Air Secukupnya

Kamu boleh minum air setelah kejadian tersebut. Namun, tidak perlu memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan.

Air tidak berfungsi sebagai “pembersih” khusus untuk mengeluarkan belatung dari lambung. Tubuh memiliki sistem pencernaan sendiri untuk memproses makanan yang masuk.

Karena itu, cukup jaga asupan cairan seperti biasa. Jika kamu mulai mengalami muntah atau diare, kebutuhan cairan juga menjadi lebih penting karena tubuh dapat kehilangan banyak cairan.

Jadi, minumlah secara bertahap sesuai kebutuhan tubuh.

4. Jangan Memicu Muntah atau Minum Pencahar Sembarangan

Keinginan untuk segera mengeluarkan sesuatu yang tertelan memang wajar. Namun, jangan sengaja memicu muntah tanpa arahan tenaga medis.

Selain itu, hindari penggunaan obat pencahar secara sembarangan. Obat tersebut bukan solusi otomatis untuk setiap benda atau organisme yang masuk ke saluran pencernaan.

Jika kamu merasa sangat khawatir, lebih baik konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan. Mereka dapat memberikan arahan sesuai situasi yang kamu alami.

5. Pantau Kondisi Tubuh

Setelah kejadian, perhatikan perubahan kondisi tubuh. Jangan hanya berfokus pada rasa jijik atau bayangan tentang belatung.

Gangguan kesehatan justru dapat berkaitan dengan makanan yang sudah tercemar. Beberapa gejala keracunan makanan antara lain mual, muntah, diare, dan sakit perut.

Karena itu, catat kapan gejala mulai muncul dan seberapa sering keluhan terjadi. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan jika kamu membutuhkan pemeriksaan.

Selain itu, tetap konsumsi makanan yang aman dan mudah kamu toleransi. Hindari makanan yang kembali memicu mual.

6. Kenali Tanda Bahaya

Sebagian orang mungkin hanya mengalami rasa jijik tanpa gangguan kesehatan berarti. Namun, kamu tetap perlu mengenali tanda yang membutuhkan perhatian medis.

Segera cari bantuan tenaga kesehatan jika kamu mengalami muntah berulang, diare berat, sakit perut hebat, atau tanda kekurangan cairan. Darah pada muntah atau tinja juga membutuhkan evaluasi medis.

Kondisi seperti mulut sangat kering, tubuh terasa lemas, dan frekuensi buang air kecil menurun dapat mengarah pada dehidrasi.

Selain itu, kelompok tertentu perlu lebih berhati-hati ketika mengalami gejala akibat makanan. Anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat penyakit bawaan makanan.

7. Pahami Perbedaan Belatung Tertelan dan Myiasis

Banyak orang langsung mengaitkan belatung yang tertelan dengan myiasis. Padahal, keduanya tidak selalu sama.

CDC menjelaskan myiasis sebagai infeksi larva lalat pada jaringan tubuh manusia. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan larva yang menginfeksi jaringan, termasuk melalui luka tertentu.

Sementara itu, beberapa larva lalat yang ikut tertelan bersama makanan tidak mampu bertahan dalam saluran pencernaan. Karena itu, keberadaan larva pada makanan tidak otomatis berarti seseorang mengalami myiasis.

Namun, jangan mengabaikan keluhan yang muncul. Jika kamu menemukan larva dalam tinja secara berulang atau mengalami keluhan yang tidak biasa, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.

8. Tingkatkan Keamanan Makanan Setelah Kejadian

Pengalaman tersebut bisa menjadi pengingat untuk lebih teliti saat memilih makanan. Periksa warna, aroma, tekstur, dan kondisi makanan sebelum menyantapnya.

Selain itu, simpan makanan sesuai kebutuhan. Jangan membiarkan makanan terlalu lama berada pada kondisi yang mendukung pertumbuhan kuman.

Untuk buah dan sayuran, cuci bahan makanan menggunakan air mengalir sebelum mengolah atau mengonsumsinya. FDA juga menyarankan konsumen membuang bagian buah atau sayuran yang sudah busuk atau rusak.

Kamu juga perlu menjaga kebersihan tangan, peralatan makan, meja dapur, dan tempat penyimpanan makanan. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi risiko kontaminasi silang.

(naf/lex)

Iklan