JAKARTA, ifakta.co – Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, mengalami erupsi pada Minggu (12/7) malam. Letusan tersebut disertai lontaran material pijar, suara dentuman, serta aliran lava dari kawah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi diawali dengan letusan bertipe strombolian atau eksplosif lemah.

“Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi ini diawali dengan erupsi bertipe strombolian (eksplosif lemah) setinggi sekitar 100 meter diikuti suara dentuman, lontaran material pijar jatuh di sekitar kawah,” kata Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Senin (13/7).

Iklan

Muhari menjelaskan aktivitas vulkanik Gunung Karangetang terjadi sekitar pukul 19.14 WITA. Setelah letusan awal, aktivitas berlanjut dengan erupsi efusif berupa aliran lava ke beberapa arah.

Lava dilaporkan mengalir sejauh sekitar 1.000 meter ke arah utara dari Kawah Utara. Selain itu, aliran lava juga bergerak sekitar 400 meter ke arah barat daya serta mencapai sekitar 1.000 meter ke arah selatan.

Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro, material panas yang terlontar dari kawah memicu kebakaran alang-alang di sekitar puncak gunung.

“Pantauan BPBD Kabupaten Sitaro semalam menunjukkan material panas lemparan dari letusan menyebabkan alang-alang di sekitar puncak terbakar dan terpantul di atas awan kabut sehingga nampak seperti api besar,” ungkapnya.

Pada Senin (13/7), BPBD kembali melaporkan adanya kebakaran ilalang di kawasan puncak Gunung Karangetang. Namun, api berhasil dipadamkan sehingga tidak meluas.

Meski demikian, personel BPBD Kabupaten Sitaro tetap bersiaga untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api serta kondisi cuaca guna mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan akibat erupsi.

“Personel BPBD Kabupaten Sitaro tetap siaga memantau dinamika alam dan cuaca untuk meminimalkan potensi karhutla akibat kejadian erupsi gunung api. Pemerintah daerah setempat juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tetap waspada dengan dinamika alam yang mungkin terjadi,” jelas Muhari.

Hingga saat ini, aktivitas masyarakat di sekitar wilayah terdampak dilaporkan masih berlangsung normal. Sementara itu, status Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada.

Aktivitas Vulkanik Meningkat Sejak Awal Juli

Gunung Karangetang yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut diketahui mengalami peningkatan aktivitas sejak awal Juli 2026.

Selama periode 1 hingga 11 Juli, PVMBG mencatat berbagai aktivitas kegempaan, meliputi 12 kali gempa guguran, 83 gempa hembusan, tujuh tremor harmonik, 32 tremor nonharmonik, serta 10 gempa hybrid atau fase banyak.

Selain itu, tercatat pula 41 gempa vulkanik dangkal, 21 gempa vulkanik dalam, tiga gempa tektonik lokal, empat gempa yang dirasakan masyarakat dengan skala I-III MMI, serta 127 gempa tektonik jauh.

“Dengan catatan aktivitas tersebut, PVMBG menyatakan tingkat aktivitas masih dalam level II atau waspada. Status aktivitas gunung ini belum berubah sejak 11 Januari 2025,” katanya.

BNPB mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar mematuhi seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh PVMBG.

“Masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (Selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2,5 kilometer,” tutur Muhari.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu di Gunung Karangetang diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan dan banjir bandang yang sewaktu-waktu dapat mengalir hingga ke wilayah pesisir.

“Waspadai pula guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya,” katanya.

(faz/my)

Iklan