JAKARTA, ifakta.co – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tercatat mengalami tujuh kali erupsi hanya dalam kurun waktu sekitar empat jam pada Jumat.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru, letusan pertama terjadi pada pukul 06.06 WIB. Saat itu, kolom abu terpantau membumbung sekitar 700 meter di atas puncak dengan warna kelabu dan intensitas tebal mengarah ke tenggara.
Aktivitas erupsi tersebut juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 108 detik.
Iklan
Selanjutnya, erupsi kedua terjadi pada pukul 07.22 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 400 meter di atas puncak.
“Erupsi kedua terjadi pada pukul 07.22 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati 400 meter di atas puncak,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Jumat.
Tak lama berselang, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 07.29 WIB. Kali ini, kolom abu mencapai sekitar 1.100 meter di atas puncak.
Aktivitas vulkanik berlanjut pada pukul 07.58 WIB dengan tinggi kolom letusan meningkat hingga sekitar 1.300 meter di atas puncak.
Memasuki pukul 08.45 WIB, Gunung Semeru kembali meletus. Kolom abu terpantau mencapai sekitar 800 meter di atas puncak dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang mengarah ke selatan. Saat laporan disusun, erupsi masih berlangsung.
Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 09.48 WIB. Tinggi kolom letusan kembali mencapai sekitar 1.300 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah selatan.
Aktivitas vulkanik kembali terjadi pada pukul 10.18 WIB. Pada letusan ketujuh tersebut, tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak.
“Gunung Semeru kembali erupsi pada pukul 10.18 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah selatan,” ucapnya.
Liswanto menjelaskan, hingga saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Oleh karena itu, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan demi menghindari risiko bencana.
Ia menegaskan masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” kata Liswanto.
Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujar Liswanto.
(may/may)



