TANGERANG, ifakta.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang memetakan sedikitnya 43 hektare lahan pertanian yang berpotensi mengalami puso atau gagal panen. Ancaman tersebut muncul seiring kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan, puluhan hektare lahan pertanian yang masuk dalam pemetaan risiko tersebut tersebar di 12 kecamatan. Adapun wilayah terdampak mencakup 24 desa.
Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi risiko gagal panen. Langkah itu sekaligus bertujuan membantu petani apabila tanaman mereka akhirnya mengalami puso akibat kekeringan.
Iklan
Salah satu upaya yang disiapkan pemerintah daerah adalah menyediakan 8,9 ton benih pengganti. Benih tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu petani yang tanamannya terdampak.
“Langkah-langkah yang dilakukan Pemda sendiri yaitu, menyiapkan 8,9 ton benih pengganti,” jelasnya.
Meski BPBD telah memetakan potensi gagal panen, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang menyatakan belum menerima laporan mengenai lahan yang benar-benar mengalami puso akibat kekeringan.
Kepala Bidang Sarana DPKP Kabupaten Tangerang Sahri mengatakan, pihaknya masih terus memantau kondisi pertanian selama musim kemarau. Menurut dia, gagal panen juga dapat terjadi akibat faktor lain selain kekeringan.
“Sampai saat ini belum ada laporan terkait luas lahan yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Ancaman kegagalan panen tidak hanya dari kemarau, tetapi bisa juga dari hama dan penyakit,” kata Sahri.
Walaupun belum menerima laporan puso, DPKP tetap menjalankan langkah mitigasi untuk menekan dampak kemarau ekstrem terhadap sektor pertanian.
Pemerintah daerah telah memetakan kawasan pertanian yang rawan mengalami kekeringan. Selain itu, DPKP memanfaatkan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan jadwal tanam.
DPKP Kabupaten Tangerang juga melakukan sosialisasi kepada petani serta menyiagakan brigade alat dan mesin pertanian atau alsintan. Pompa air menjadi salah satu peralatan yang disiapkan untuk membantu mengatasi keterbatasan pasokan air.
“Kami telah memetakan wilayah rawan kekeringan, memanfaatkan data BMKG untuk jadwal tanam, melakukan sosialisasi, menyiagakan brigade alsintan (pompa air), membersihkan saluran irigasi, serta menyiapkan bantuan benih jika terjadi gagal panen (puso),” jelas Sahri.
Selain menyiagakan pompa air, pemerintah daerah melakukan pembersihan saluran irigasi. Upaya tersebut dilakukan agar distribusi air menuju lahan pertanian tetap berjalan secara optimal di tengah kondisi kemarau.
DPKP juga mulai memetakan berbagai sumber air yang berpotensi dimanfaatkan untuk mempertahankan produktivitas lahan pertanian. Langkah ini menjadi bagian dari mitigasi kekeringan di Kabupaten Tangerang.
Salah satu potensi sumber air berada di bekas galian pasir di wilayah selatan Kabupaten Tangerang. Pemerintah berencana memanfaatkan sumber air tersebut dengan dukungan pompa untuk mengairi lahan pertanian selama musim kemarau.
Berbagai langkah tersebut disiapkan untuk mengurangi risiko gagal panen sekaligus menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan kondisi lahan, terutama di wilayah yang telah masuk dalam pemetaan rawan kekeringan.
(sib/lex)



