SEMARANG, ifakta.co – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan lima daerah di Jawa Tengah sebagai pilot project Program Indonesia Sadar Jamu Aman (Idaman). Program ini bertujuan menjaga keamanan jamu tradisional sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal asli Indonesia.

Lima daerah yang terpilih meliputi Purworejo, Sukoharjo, Pati, Surakarta, dan Kota Semarang. Peluncuran program berlangsung dalam Kick Off Indonesia Sadar Jamu Aman (Idaman) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (9/6).

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menjelaskan bahwa Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman obat tradisional. Selain kaya bahan baku herbal, masyarakat di wilayah tersebut juga telah lama menjadikan jamu sebagai bagian dari budaya sehari-hari.

Iklan

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pasar jamu hingga tingkat nasional bahkan internasional.

“Selama 2025 BPOM Pusat melakukan sampling dan pengujian terhadap 11.654 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan dan sebanyak 206 produk terbukti mengandung bahan kimia obat,” ujarnya.

Program Idaman Jaga Kepercayaan Masyarakat

BPOM menghadirkan Program Idaman sebagai langkah menjaga citra positif jamu Indonesia. Program ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar memilih produk herbal yang aman dan memenuhi ketentuan.

Namun, hasil pengawasan BPOM masih menunjukkan adanya peredaran obat bahan alam ilegal yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Temuan tersebut menjadi perhatian karena dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap jamu tradisional.

Selain melakukan pengujian produk, BPOM juga mengoptimalkan patroli siber untuk mengawasi penjualan obat herbal melalui platform digital.

Hasil pengawasan menemukan lebih dari 39 ribu penjualan obat bahan alam ilegal atau produk yang tidak memenuhi ketentuan. Kondisi tersebut dinilai dapat mencederai reputasi jamu Indonesia yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya sekaligus alternatif kesehatan masyarakat.

Di wilayah Semarang, BPOM menemukan 147 item obat bahan alam yang diduga mengandung bahan kimia obat atau tidak memiliki izin edar dengan total 13.263 pieces.

“Terhadap temuan tersebut BPOM telah melakukan pengamanan produk. Ini sebagai langkah awal untuk mencegah potensi peredaran lebih lanjut,” tandasnya.

Sementara itu, inspeksi rutin BPOM di Jawa Tengah sepanjang 2025 hingga 2026 juga menghasilkan temuan yang cukup besar. Petugas memeriksa 119 sarana dan menemukan 10.267 jenis produk obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat.

Taruna menegaskan bahwa BPOM akan mengambil langkah hukum terhadap pelanggaran tersebut sekaligus terus melakukan pembinaan kepada pelaku usaha yang memproduksi jamu secara benar.

“Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak yang menggunakan bahan kimia obat. BPOM akan melakukan penindakan secara tegas karena efek penuntutan kita perlu lakukan,” ujarnya.

Potensi Jamu Jateng Terus Dikembangkan

Di sisi lain, BPOM tetap memberikan pendampingan kepada pelaku usaha agar kualitas jamu semakin meningkat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Langkah tersebut juga sejalan dengan pengakuan UNESCO pada 2023 yang menetapkan jamu sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut positif penunjukan lima daerah di provinsi tersebut sebagai lokasi percontohan Program Idaman.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam mengembangkan industri jamu tradisional sekaligus menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.

“Kalau kita melihat di Solo, Sukoharjo, Semarang, masyarakat sudah menyajikan jamu di kafe-kafe,” kata Taj Yasin.

Ia menambahkan bahwa minat masyarakat terhadap jamu semakin meningkat sejak pandemi Covid-19 karena kesadaran hidup sehat ikut bertambah.

Meski demikian, Taj Yasin tetap mengingatkan masyarakat agar memilih produk jamu yang aman dan menghindari produk yang mengandung bahan kimia obat.

Selain itu, ia juga mendukung langkah BPOM yang terus memberikan pendampingan kepada UMKM di sektor jamu tradisional. Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjaga kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing jamu Indonesia di pasar nasional maupun global.

(naf/lex)

Iklan