JAKARTA, ifakta.co – Mayo Clinic menyebutkan, hantavirus merupakan infeksi langka yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia.

Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel dari urin, kotoran, atau liur tikus yang terinfeksi, menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung atau mulut, atau terkena gigitan tikus.

“Dalam kasus tertentu, penularan antarmanusia juga dapat terjadi, meski jarang. Salah satu penyakit yang ditimbulkan adalah sindrom paru hantavirus atau HPS,” katanya dilansir, Selasa (5/5).

Iklan

Penyakit ini biasanya diawali gejala mirip flu seperti demam, menggigil, nyeri otot, dan sakit kepala, lalu dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius yang menyerang paru-paru dan jantung.

Gejala HPS umumnya muncul satu hingga delapan pekan setelah paparan. Seiring memburuknya kondisi, penderita dapat mengalami sesak di dada.

Selain itu, hantavirus juga bisa menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, yang biasanya muncul dalam satu hingga dua minggu setelah terpapar.

Menurut data Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, tingkat kematian HPS mencapai sekitar 35 persen. Sementara itu, HFRS memiliki tingkat kematian sekitar 1 hingga 15 persen.

Hingga kini, belum tersedia obat khusus untuk hantavirus, sehingga penanganan medis dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang hidup pasien.

Kasus dugaan wabah hantavirus di MV Hondius menunjukkan bahwa penyakit langka ini tetap bisa memicu ancaman serius ketika terjadi di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.

Dengan tiga korban jiwa, dua kru yang sakit, dan investigasi WHO yang masih berjalan, perhatian publik kini tertuju pada hasil pemeriksaan laboratorium dan kepastian sumber infeksi.

Di tengah situasi tersebut, kewaspadaan terhadap gejala hantavirus dan faktor risiko paparan tikus tetap menjadi hal penting. Penanganan cepat, deteksi dini, dan investigasi yang transparan akan menentukan langkah lanjutan dalam kasus ini.

Wabah di Kapal Pesiar

Travel blogger asal Amerika Serikat, Jake Rosmarin, menjadi salah satu penumpang yang berada di kapal tersebut.

Rosmarin membagikan video melalui Instagram pada Senin (4/5/2026) dan menggambarkan suasana penuh ketidakpastian yang dirasakan para penumpang.

“Saat ini saya berada di atas MV Hondius, dan apa yang terjadi sekarang sangat nyata bagi kami semua di sini. Kami bukan sekadar cerita, bukan berita,” kara Rosmanin, selasa (5/5)

Dalam keterangan videonya, Rosmarin juga menegaskan bahwa kondisi pribadinya saat ini baik. Meski begitu, ia tidak menutupi bahwa situasi di kapal tetap menegangkan karena seluruh penumpang harus menunggu perkembangan lebih lanjut dari pihak berwenang.

(min/my)