JAKARTA, ifakta.co – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “FGD Penyamaan Persepsi dan Penegasan Komitmen Pemangku Kebijakan dan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Bulak, Kec. Jatibarang, Kabupaten Indramayu Sebagai Desa Wisata” berlangsung di Gardena, Kabupaten Indramayu pada 10–11 Maret 2026.
FGD ini menjadi bagian dari upaya mendorong Desa Bulak berkembang sebagai desa wisata mandiri sekaligus memperkuat komitmen bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Kegiatan itu dihadiri Camat Jatibarang Mardono, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dispara) Kabupaten Indramayu Ahmad Syadali, Forum Komunikasi RT/RW Kabupaten Indramayu, Pokdarwis, Karang Taruna, PKK, paguyuban UMKM, BUMDes, koperasi desa, serta perwakilan masyarakat dan pimpinan UNJ.
Iklan
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, menegaskan komitmen kampusnya untuk mendukung pengembangan Desa Bulak menjadi desa wisata yang hidup dan mandiri. Ia menilai keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Program ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada kerja sama bersama,” ujarnya seperti pada berita tertulis UNJ (12/3).
Prof. Komarudin menjelaskan bahwa UNJ akan melakukan pendampingan dalam berbagai kegiatan, termasuk rencana penyelenggaraan festival budaya yang diharapkan dapat menjadi pemicu kebangkitan pariwisata desa.
Selain kegiatan budaya, pengembangan Desa Bulak juga akan menggali berbagai potensi lokal, salah satunya kawasan situs Buyut Banjar yang sejak lama dikenal sebagai destinasi wisata religi.
Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan Desa Bulak telah dimulai sejak 2024 melalui riset yang dilakukan oleh tim akademisi UNJ. Pada 2025, program dilanjutkan dengan tahap penjajakan dan pelaksanaan kegiatan yang berfokus pada pengembangan potensi wisata serta pemberdayaan masyarakat.
Memasuki tahun 2026, kegiatan difokuskan pada penguatan sektor pariwisata melalui program pengabdian kepada masyarakat yang secara langsung mendukung pengembangan desa wisata.
“Target capaian yaitu desa Bulak pada tahun 2027 menuju berkembang serta pada 2028 menuju desa wisata maju, dan mencapai status desa wisata mandiri pada 2029 tanpa lagi memerlukan pendampingan dari UNJ.” katanya.
Menurut Prof. Komarudin, keberhasilan program desa wisata sangat ditentukan oleh tata kelola kelembagaan yang baik.
“Tata kelola adalah hal yang paling utama. Di mana pun, agar sebuah program bisa hidup, berkembang, dan memberikan hasil positif, harus didukung tata kelola yang baik,” ujarnya.
Camat Jatibarang Mardono menyatakan dukungannya terhadap upaya transformasi Desa Bulak menjadi desa wisata berbasis masyarakat.
Ia menilai pengembangan desa wisata memerlukan strategi yang menyeluruh untuk mentransformasi potensi lokal menjadi destinasi wisata berbasis kearifan lokal.
Menurutnya, Desa Bulak memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, salah satunya keberadaan kera di kawasan petilasan Buyut Banjar.
Selain itu, posisi strategis jalur Jatibarang–Karangampel dinilai mendukung konsep stopover tourism atau wisata singgah yang dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Dispara Kabupaten Indramayu Ahmad Syadali juga mengapresiasi inisiatif pengembangan Desa Bulak sebagai desa wisata. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kekompakan karena keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada komitmen bersama.
Ia menilai Desa Bulak memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang mampu membuka lapangan kerja serta mengembangkan ekonomi kreatif berbasis masyarakat lokal.
Selain itu, pengembangan desa wisata juga diharapkan dapat mendorong diversifikasi ekonomi masyarakat yang selama ini didominasi sektor pertanian.
Meski demikian, Ahmad Syadali mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur wisata dan kondisi fiskal daerah.
Karena itu, pemerintah daerah akan berupaya memperkuat infrastruktur serta mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi.
Perwakilan Forum Komunikasi RT/RW Kabupaten Indramayu, Mahmud, menekankan pentingnya legalitas dan kebersamaan dalam pengembangan Desa Bulak sebagai desa wisata agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Ketua BUMDes Desa Bulak, Eko Purnomo, juga mengapresiasi langkah UNJ yang berinisiatif mendukung pembangunan desa. Ia berharap adanya kolaborasi berbagai pihak untuk bersama-sama membangun Desa Bulak.
Dukungan juga disampaikan oleh Prof. Iwan Sugihartono dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (LPPM UNJ). Ia berharap masyarakat dan pemerintah desa dapat mendukung program-program yang dijalankan tim UNJ di lapangan.
Selain itu, LPPM UNJ juga menggagas pembangunan monumen ikonik berupa patung monyet memegang mangga sebagai simbol sejarah Desa Bulak. Monumen tersebut rencananya dilengkapi prasasti yang ditandatangani Rektor UNJ.
Melalui kegiatan FGD ini, UNJ menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi proses transformasi Desa Bulak menjadi desa wisata yang berdaya saing dan berbasis kearifan lokal.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat pengembangan potensi wisata sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
(naf/kho)



