JAKARTA, Ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 6 November 2026. Pada pukul 09.02 WIB, indeks turun 74,43 poin atau 1,48 persen ke level 4.955,83.
Pelemahan ini terjadi setelah IHSG menutup perdagangan Kamis, 5 November 2026, dengan penguatan 2,25 persen ke posisi 5.030,26.
Pada awal perdagangan Jumat, volume transaksi tercatat 19,28 juta lot dengan nilai sekitar Rp387,79 miliar. Pergerakan pasar masih perlu dipantau karena sesi pertama belum berakhir.
IHSG Dibuka Merah Setelah Menguat Sehari Sebelumnya
Penurunan IHSG pada awal perdagangan menunjukkan pasar belum mampu mempertahankan momentum penguatan sehari sebelumnya. Investor masih mencermati perkembangan pasar global dan sejumlah agenda ekonomi.
Pada perdagangan Kamis, sebanyak 440 saham menguat, 178 saham melemah, dan 99 saham bergerak stagnan. Saham BAJA, BELL, MKNT, UVCR, dan MSKY masuk jajaran top gainers pada penutupan hari tersebut.
Namun, daftar saham yang menguat pada Kamis tidak dapat dianggap sebagai top gainers perdagangan Jumat. Data individual saham pada pembukaan Jumat belum tersedia dalam laporan awal yang menjadi acuan artikel ini.
Wall Street dan Saham Teknologi Jadi Perhatian
Salah satu sentimen eksternal yang membayangi pasar adalah pelemahan bursa Amerika Serikat, terutama saham-saham teknologi. Pergerakan Wall Street menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi selera risiko di pasar saham global.
Perkembangan politik Amerika Serikat setelah pemilu sela juga menjadi perhatian. Perubahan peta kekuatan politik di Kongres memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan pemerintahan Donald Trump, termasuk konflik di Timur Tengah.
Harga minyak dunia yang sebelumnya mengalami penurunan tajam turut menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar. Perubahan harga komoditas dapat memengaruhi saham-saham sektor energi dan barang baku.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Penopang
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 menjadi salah satu kabar positif. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen.
Capaian tersebut berpotensi memperkuat optimisme terhadap aktivitas ekonomi domestik. Namun, sentimen positif itu belum cukup menahan tekanan jual pada pembukaan perdagangan Jumat.
Investor juga mencermati perkembangan reformasi pasar modal dan kebijakan regulator. Langkah pengawasan serta penindakan terhadap dugaan pelanggaran di pasar saham menjadi perhatian setelah muncul kekhawatiran terkait transparansi pasar.
Saham Apa yang Perlu Dipantau?
Pada perdagangan Kamis, saham-saham perbankan dan komoditas ikut menopang penguatan IHSG. BBCA naik 3,96 persen, BBRI menguat 0,74 persen, sedangkan AMMN melesat 8,28 persen.
Saham MDKA juga mencatat kenaikan 15,76 persen pada perdagangan Kamis. Sementara itu, saham ANTM menguat 4,62 persen dan TLKM naik 5,57 persen.
Pergerakan saham-saham tersebut dapat menjadi perhatian untuk melihat apakah penguatan sebelumnya berlanjut atau justru mengalami koreksi. Investor tetap perlu membedakan kinerja penutupan Kamis dengan pergerakan aktual pada perdagangan Jumat.
Dengan IHSG yang dibuka melemah, arah indeks hingga penutupan sesi pertama masih bergantung pada keseimbangan tekanan jual dan aksi beli. Perubahan data indeks, transaksi, serta daftar saham penguat perlu dipantau sebelum menyimpulkan kondisi pasar sepanjang sesi pertama.
(tio/tio)



























