YOGYAKARTA, ifakta.co – Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan untuk mencari informasi mengenai kesehatan. Selain membaca artikel medis dan mengakses situs layanan kesehatan, sebagian orang mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk memahami gejala, penyakit, hingga berbagai persoalan medis.

Kemudahan tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan awal. Namun, pengguna tidak boleh langsung menganggap seluruh jawaban AI sebagai rujukan medis yang akurat. Mereka tetap perlu memeriksa informasi tersebut melalui dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. apt. Muhammad Thesa Ghozali, M.Sc., mengingatkan pentingnya langkah verifikasi tersebut. Ia menilai masyarakat boleh menggunakan chatbot AI untuk memperluas pengetahuan kesehatan. Meski demikian, pengguna harus memahami keterbatasan teknologi dan tidak menjadikan jawabannya sebagai pengganti konsultasi medis.

Iklan

Ghozali menyampaikan pandangan itu berdasarkan pengalamannya meneliti pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang kesehatan. Pada 2025, ia mengkaji tingkat akurasi dan keandalan jawaban ChatGPT ketika menjawab pertanyaan pengetahuan umum mengenai asma.

Penelitian tersebut juga menelaah implikasi penggunaan AI untuk mendukung edukasi kesehatan masyarakat. Pada tahun yang sama, Ghozali meneliti jawaban chatbot AI mengenai diabetes. Kajian itu mencakup aspek keterbacaan serta keandalan informasi yang dihasilkan.

Dalam penelitiannya, Ghozali menguji salah satu versi AI yang menurutnya belum menunjukkan tingkat akurasi maksimal. Namun, ia juga mengakui perkembangan teknologi terus mendorong penyempurnaan sistem dan ketepatan informasi.

“Kalau sekadar untuk pengetahuan, kita tidak bisa melarang, jadi itu boleh dan tidak masalah. Akan tetapi, informasi yang didapat oleh pengguna masih harus dikonfirmasi ke ahli, misalnya dokter atau tenaga kesehatan lain, supaya tidak ada misinformasi,” ujar Ghozali.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AI dapat berperan sebagai sarana edukasi awal. Akan tetapi, pengguna tetap perlu mengutamakan penilaian tenaga kesehatan, terutama ketika informasi berkaitan dengan diagnosis, pilihan pengobatan, atau kondisi medis tertentu.

Infrastruktur dan Literasi Digital Masih Menjadi Tantangan

Selain membahas penggunaan AI untuk mencari informasi medis, Ghozali menyoroti kesiapan Indonesia dalam mengembangkan teknologi kesehatan digital. Ia selama ini banyak meneliti pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung sistem manajerial di bidang kesehatan.

Menurutnya, perkembangan penelitian teknologi kesehatan telah bergerak melampaui penggunaan aplikasi seluler yang berdiri sendiri atau stand alone. Kini, pengembangan sistem lebih mengarah pada integrasi berbagai layanan dan pertukaran data. Namun, penerapan konsep tersebut di Indonesia masih membutuhkan banyak persiapan.

Ghozali menjelaskan, tenaga kesehatan di lapangan tetap mengikuti kebijakan dan arahan pemerintah. Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan serta Kementerian Komunikasi dan Digital memiliki peran dalam mendorong penerapan teknologi kesehatan.

Meski begitu, implementasi teknologi digital belum berjalan tanpa hambatan. Salah satu persoalan utama berkaitan dengan pemahaman masyarakat mengenai keamanan informasi pribadi.

Banyak pengguna aplikasi kesehatan masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai privasi data dan keamanan siber. Padahal, aplikasi semacam itu dapat memuat informasi penting, mulai dari identitas pengguna hingga riwayat kesehatan.

“Pengguna aplikasi seluler itu kebanyakan masih awam, sehingga belum paham soal privasi data, keamanan siber, dan keamanan-keamanan lainnya. Itu yang saat ini cukup menjadi perhatian dan memerlukan edukasi,” jelasnya.

Karena itu, pengembangan aplikasi kesehatan perlu berjalan beriringan dengan edukasi kepada masyarakat. Pengguna harus memahami jenis data yang mereka bagikan, tujuan pengumpulan informasi, serta risiko yang mungkin muncul ketika sistem tidak memiliki perlindungan memadai.

Tantangan berikutnya menyangkut pemerataan infrastruktur internet. Menurut Ghozali, aplikasi kesehatan digital sangat bergantung pada konektivitas. Kondisi jaringan di kota-kota besar dan Pulau Jawa relatif lebih mendukung penggunaan layanan berbasis internet.

Sebaliknya, masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) masih berpotensi menghadapi kendala akses. Keterbatasan jaringan dapat menghambat penggunaan aplikasi, terutama ketika layanan membutuhkan koneksi stabil untuk mengirim atau menerima data.

Selain infrastruktur, Indonesia juga perlu memperhatikan kemampuan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi. Pengembangan layanan kesehatan digital membutuhkan tenaga ahli yang mampu membangun, mengelola, dan menjaga keamanan sistem.

Persoalan lain muncul ketika fasilitas kesehatan menggunakan sistem yang belum saling terhubung. Kondisi tersebut menyulitkan pertukaran informasi antarfasilitas. Padahal, integrasi data dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh gambaran riwayat pasien secara lebih menyeluruh.

Ghozali berharap hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat bagi apoteker dan tenaga kesehatan lain. Menurutnya, aplikasi seluler dapat mendukung komunikasi antara apoteker dan pasien, terutama dalam pemantauan kepatuhan minum obat, rekam medis, serta penggunaan obat.

Lebih lanjut, ia menilai manfaat teknologi tersebut dapat meningkat ketika pengembang menggabungkannya dengan inovasi lain. Salah satu teknologi yang ia soroti ialah Internet of Medical Things (IoMT), yakni pemanfaatan perangkat yang terhubung dengan internet untuk mendukung layanan dan pemantauan kesehatan.

“Namun, manfaatnya tentu akan lebih besar jika dikombinasikan dengan teknologi terbaru, misalnya Internet of Medical Things (IoMT),” pungkas Ghozali.

Di sisi lain, capaian akademik Ghozali turut menunjukkan kiprahnya dalam penelitian bidang tersebut. Pada 2026, ia masuk jajaran Highly Ranked Scholar versi ScholarGPS.

Pengembangan teknologi kesehatan digital pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kecanggihan aplikasi atau kemampuan AI menjawab pertanyaan. Indonesia juga membutuhkan infrastruktur yang merata, perlindungan data yang kuat, tenaga ahli yang memadai, serta masyarakat yang memahami cara menggunakan teknologi secara aman.

Dengan demikian, pemanfaatan AI dan aplikasi kesehatan dapat mendukung edukasi serta pelayanan medis. Namun, teknologi tetap harus berjalan sebagai alat bantu, sementara keputusan terkait kondisi dan penanganan pasien memerlukan pertimbangan tenaga kesehatan.

(naf/lex)

Iklan