TANGERANG, ifakta.co – Gelaran Link Viber Cup (LVC) 2026 di Stadion Mini Pangeran Jaga Lautan, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, selama 31 hari bukan hanya menyedot perhatian pecinta sepak bola. Di balik kemeriahan turnamen yang diikuti 32 tim tersebut, publik mulai mempertanyakan aspek pembiayaan kegiatan, termasuk sumber anggaran pengamanan aparat TNI-Polri yang terlihat hadir selama pertandingan berlangsung.
Kehadiran personel keamanan dalam setiap laga dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga ketertiban dan memastikan pertandingan berjalan aman. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai siapa yang menanggung biaya pengamanan selama turnamen berlangsung.
“Kalau aparat hadir setiap hari, tentu ada biaya operasionalnya. Dari mana sumber biayanya? Apakah dari panitia atau ada mekanisme lain?” ujar seorang pengunjung yang menyaksikan pertandingan di Stadion Mini Pangeran Jaga Lautan Sabtu (12/9).
Iklan
Pertanyaan tersebut semakin mengemuka karena LVC 2026 merupakan turnamen yang memiliki sejumlah sumber pemasukan yang diduga bersifat komersial, mulai dari pendaftaran 32 tim, tiket masuk penonton, parkir, sponsor hingga aktivitas UMKM di sekitar lokasi pertandingan.
Kondisi itu memunculkan dugaan adanya perputaran dana yang cukup besar dalam penyelenggaraan turnamen. Karena itu, transparansi mengenai pemasukan dan pengeluaran kegiatan menjadi hal yang dinilai penting untuk diketahui publik.
Kapolsek Kronjo, Iptu Yudi Sulis Gunawan saat dimintai klarifikasi mengenai pengamanan Link Viber Cup 2026, menyampaikan bahwa pihak panitia telah berkoordinasi dengan jajaran Polsek hingga Polresta Tangerang.
“Pihak panitia sudah koordinasi dengan Polsek sampai Polresta Tangerang. Namun silakan ke ketua panitia saja, Kang, untuk lebih lanjutnya,” ujar Yudi Sulis Kapolsek Kronjo kepada ifakta.co
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aspek pengamanan telah dikoordinasikan dengan kepolisian. Namun, pertanyaan mengenai pembiayaan operasional pengamanan masih menjadi tanda tanya publik dan perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka.
Sebelumnya, Ketua Panitia Link Viber Cup 2026, Triesno Sergio, dalam musyawarah dan jumpa pers menjelang pelaksanaan turnamen sempat menyampaikan bahwa pihaknya meminta semua pihak terlebih dahulu mendukung kesuksesan penyelenggaraan LVC 2026.
“Kami minta sukses aja dulu lah Link Viber Cup 2026 ini. Terkait pemberitaan, kami serahkan ke Media Center Kronjo (MCK),” kata Triesno Sergio saat itu.






Namun hingga kini, sejumlah pertanyaan mengenai transparansi pengelolaan dana kegiatan belum mendapatkan penjelasan dari panitia. Di antaranya terkait kontribusi 32 tim, sponsor, tiket masuk, parkir, dugaan pungutan atau komersialisasi UMKM, hingga biaya operasional pengamanan selama turnamen berlangsung.
Padahal, keterbukaan mengenai sumber pemasukan dan penggunaan dana menjadi penting, terlebih ketika sebuah kegiatan olahraga berlangsung selama 31 hari dan melibatkan banyak pihak.
“Herman (27), warga Kecamatan Kronjo, menilai perputaran uang dalam turnamen tersebut patut dijelaskan secara terbuka.
“Enggak mungkin panitia tidak ada biaya. Kalau memang tidak ada keuntungan, kenapa kegiatan seperti ini digelar lagi? Perputaran duitnya kelihatan besar. Ada sponsor, tiket masuk, parkir, belum lagi UMKM. Terus aparat setiap hari berjaga, biaya operasionalnya dari mana?” ujarnya.
Publik pun mendorong agar pihak terkait, termasuk panitia penyelenggara, memberikan penjelasan mengenai struktur pembiayaan LVC 2026 secara transparan.
Apabila seluruh pemasukan dan pengeluaran kegiatan dapat dijelaskan secara terbuka, termasuk mekanisme pembiayaan pengamanan, maka berbagai spekulasi mengenai dugaan aliran dana dalam penyelenggaraan Link Viber Cup 2026 dapat diluruskan.
Sebaliknya, jika tidak ada penjelasan, pertanyaan publik mengenai dugaan adanya aliran dana atau keuntungan komersial di balik turnamen tersebut berpotensi terus berkembang.
Hingga berita ini disusun, Ketua Panitia Link Viber Cup 2026, Triesno Sergio, belum memberikan tanggapan terkait sejumlah pertanyaan tersebut pada hari ketiga hingga saat ini.
(sib/lex)



