JAKARTA, ifakta.co – Pemerintah Irak dan Suriah mulai memperkuat hubungan bilateral melalui pembahasan rencana rehabilitasi jalur pipa minyak yang menghubungkan kedua negara. Agenda tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Damaskus.

Kementerian Luar Negeri Irak pada Senin (29/6) menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani. Pertemuan itu juga dihadiri Menteri Energi Irak Mohammed Al-Bashir.

Dalam pembahasan tersebut, kedua negara menyoroti berbagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali jalur pipa minyak Irak-Suriah yang selama bertahun-tahun tidak beroperasi.

Iklan

Selain membahas rehabilitasi pipa minyak, kedua delegasi juga mendiskusikan mekanisme transportasi dan transit pasokan energi guna mendukung kelancaran distribusi sumber daya di kawasan.

“Pertemuan juga membahas mekanisme transportasi dan transit pasokan energi, proyek rehabilitasi pipa minyak dari Irak ke Suriah, serta kerja sama di bidang sumber daya air dan pertanian, yang akan berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan bersama, integrasi ekonomi, dan kepentingan bersama kedua negara,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Irak.

Tak hanya sektor energi, kedua negara juga bersepakat memperluas kolaborasi pada bidang pengelolaan sumber daya air dan pertanian. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong integrasi ekonomi yang saling menguntungkan.

Sebagai tindak lanjut, Irak dan Suriah menyetujui pembentukan komite bersama. Tim ini akan bertugas mengawal implementasi hasil kesepakatan bilateral sekaligus mengoordinasikan berbagai program kerja di sejumlah sektor strategis.

Di sisi lain, isu keamanan juga menjadi bagian penting dalam pembicaraan kedua negara. Irak dan Suriah berkomitmen mempererat koordinasi untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan yang berkembang di kawasan.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein juga diterima Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Pertemuan tersebut membahas perkembangan situasi regional serta berbagai langkah untuk memperkuat hubungan dan kerja sama antara Baghdad dan Damaskus.

Pipa minyak Kirkuk–Baniyas merupakan salah satu infrastruktur energi penting yang dibangun pada dekade 1950-an. Jalur sepanjang sekitar 880 kilometer itu menghubungkan ladang minyak di Irak utara dengan kilang minyak di Kota Homs, Suriah, sebelum minyak dialirkan menuju terminal Pelabuhan Baniyas di pesisir Mediterania.

Saat masih beroperasi penuh, pipa minyak Kirkuk–Baniyas memiliki kapasitas penyaluran hingga 300.000 barel minyak per hari.

Namun, operasional jalur tersebut sempat terhenti hampir dua dekade pada akhir abad ke-20. Aliran minyak kembali dibuka pada 2000, tetapi berhenti lagi setelah pemboman yang dilakukan Amerika Serikat pada 2003. Kini, kedua negara berupaya menghidupkan kembali infrastruktur strategis tersebut sebagai bagian dari penguatan kerja sama energi dan ekonomi bilateral.

(yes/my)

Iklan