JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa pagi dengan pergerakan di zona merah. Pelemahan ini terjadi seiring sikap pelaku pasar yang masih memilih menunggu katalis positif, baik dari dalam negeri maupun pasar global.

Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 19,34 poin atau 0,33 persen ke posisi 5.801,45. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga melemah 4,02 poin atau 0,70 persen menjadi 568,99.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan peluang penguatan masih terbuka apabila IHSG mampu mengalami rebound dalam waktu dekat.

Iklan

“Apabila rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance 5.996-6.013, dan jika mampu menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.097 hingga 6.221-6.287. Namun, apabila support 5.722 gagal dipertahankan, risiko koreksi yang lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 masih terbuka,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Dari pasar internasional, sentimen investor masih relatif positif meski diwarnai kehati-hatian. Perhatian pasar kembali tertuju pada sektor teknologi setelah mengalami tekanan cukup besar pada pekan sebelumnya.

Namun demikian, pelaku pasar kini menanti sejumlah data penting dari Amerika Serikat, khususnya laporan ketenagakerjaan yang dijadwalkan rilis pada Kamis (1/7). Data tersebut dipandang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Di sisi lain, laporan Deutsche Bank menunjukkan ETF dan reksa dana berbasis teknologi mencatat arus keluar dana atau outflow sebesar 9,3 miliar dolar AS sepanjang pekan lalu. Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian investor mulai mengalihkan investasinya ke sektor lain.

Sepanjang pekan ini, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah agenda ekonomi AS, mulai dari data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs), pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, hingga laporan Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik kembali memengaruhi sentimen pasar. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling melancarkan serangan pada akhir pekan. Iran disebut menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz, sedangkan AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran.

Meski demikian, kekhawatiran investor sedikit mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran mengajukan pertemuan diplomatik di Doha, Qatar. Klaim tersebut kemudian dibantah oleh pemerintah Iran.

“Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik kembali meningkat namun belum memicu kepanikan di pasar keuangan global,” kata Liza.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu sejumlah indikator ekonomi penting, seperti data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan. Ketiga indikator tersebut dinilai menjadi acuan dalam melihat kondisi ekonomi nasional sekaligus arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Pemerintah juga terus menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai kebijakan fiskal, moneter, dan penguatan likuiditas sektor perbankan.

Kementerian Keuangan telah mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp110 triliun yang sebelumnya ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dengan langkah tersebut, total dana pemerintah yang ditempatkan di perbankan tetap sebesar Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir Desember 2026.

Selain itu, pemerintah menyiapkan fasilitas dana siaga atau standby facility sebesar Rp100 triliun untuk menjaga likuiditas perbankan. Langkah ini dilakukan di tengah pertumbuhan kredit yang hingga Mei 2026 masih mencapai 11,5 persen secara tahunan.

Di sektor moneter, kebijakan Bank Indonesia yang telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang 2026 mulai menunjukkan dampak positif. Hingga 26 Juni 2026, aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat mencapai sekitar 9 miliar dolar AS.

Menurut Liza, kombinasi masuknya modal asing, meningkatnya likuiditas perbankan, serta dukungan pemerintah terhadap investasi dan ekspor berpotensi menjadi katalis positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan nasional.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (29/6), bursa saham Eropa bergerak variatif. Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,04 persen, sedangkan FTSE 100 Inggris turun 0,21 persen. Sementara itu, DAX Jerman melemah 0,20 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,20 persen.

Berbeda dengan Eropa, mayoritas indeks saham Amerika Serikat ditutup menguat. Indeks Dow Jones naik 0,59 persen, S&P 500 menguat 1,17 persen, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 2,07 persen.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei naik 0,54 persen ke level 69.885,00. Sebaliknya, indeks Shanghai terkoreksi 0,33 persen menjadi 4.060,48, Hang Seng melemah 1,39 persen ke posisi 22.757,00, dan Strait Times turun 0,40 persen menjadi 5.187,90.

(den/jo)

Iklan