SUMATERA, ifakta.co – Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia kembali mencatat kabar menggembirakan. Seekor bayi gajah sumatra lahir di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Kehadiran satwa baru tersebut menambah optimisme terhadap masa depan populasi gajah sumatra yang saat ini menghadapi berbagai ancaman.

Kelahiran bayi gajah dengan bobot 123 kilogram itu menjadi pencapaian penting bagi dunia konservasi. Terlebih, populasi gajah sumatra terus menghadapi tekanan akibat penyusutan habitat, konflik dengan manusia, hingga praktik perburuan liar yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Keberhasilan tersebut juga menambah daftar capaian Lembaga Konservasi Lembah Hijau dalam program pengembangbiakan satwa langka. Sebelumnya, lembaga tersebut juga berhasil mengembangbiakkan harimau sumatra.

Iklan

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Wisnu Nurcahyo, menilai kelahiran bayi gajah sumatra merupakan perkembangan positif bagi keberlanjutan konservasi satwa liar di Indonesia.

Menurutnya, proses reproduksi gajah bukan perkara mudah. Selain membutuhkan waktu yang panjang, pengelola konservasi juga harus menghadapi berbagai tantangan teknis selama proses pengembangbiakan berlangsung.

“Saya kira kelahiran bayi gajah ini merupakan suatu keberhasilan yang baik untuk kelangsungan konservasi. Gajah itu masa kehamilannya lama, bisa 18 sampai 22 bulan, sehingga pengembangbiakkannya tidak mudah terlaksana di lembaga konservasi,” jelasnya dalam laman UGM (24/6).

Wisnu menerangkan bahwa keberhasilan program pengembangbiakan tidak hanya bergantung pada keberadaan induk jantan dan betina. Sebaliknya, pengelola harus memastikan kondisi kesehatan satwa tetap optimal serta mengawasi proses reproduksi secara berkelanjutan.

Selain itu, pengelola juga perlu menjaga keragaman genetik populasi. Faktor tersebut sangat menentukan keberhasilan konservasi dalam jangka panjang.

Menurut Wisnu, perkawinan antarindividu yang masih memiliki hubungan kekerabatan berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Risiko tersebut meliputi kelainan genetik, keguguran, kelahiran prematur, hingga meningkatnya angka kematian anak satwa.

Sebaliknya, perkawinan antara individu yang tidak memiliki hubungan darah mampu memperkaya variasi genetik populasi. Karena itu, program konservasi akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi keberlangsungan spesies.

“Kalau dari jantan dan betina itu beda, bukan saudara, itu memberikan nilai konservasi yang tinggi sehingga genetiknya baru. Keberhasilan konservasinya juga lebih tinggi. Tetapi kalau perkawinan antar saudara ini tidak bagus karena dapat mengakibatkan penyakit, abortus, prematur, dan sebagainya,” ujarnya.

Kesejahteraan Satwa Menjadi Kunci Keberhasilan Konservasi

Wisnu menilai keberhasilan yang dicapai Lembaga Konservasi Lembah Hijau menunjukkan adanya pengelolaan reproduksi yang baik. Dokter hewan dan pawang gajah atau mahout berperan penting dalam memantau kondisi satwa serta menentukan waktu reproduksi yang tepat.

Melalui pengamatan yang konsisten, pengelola dapat mengetahui kapan induk betina memasuki masa reproduksi dan kapan induk jantan siap untuk berkembang biak.

“Berarti ada pengamatan yang dilakukan oleh dokter hewan dan pawang gajah sehingga pada saat betinanya siap dikawini dan jantannya juga mau, maka terjadi perkawinan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wisnu menjelaskan bahwa konservasi ex situ atau konservasi di luar habitat alami memiliki fungsi yang berbeda dengan konservasi in situ yang berlangsung di alam liar.

Menurutnya, satwa yang lahir dan tumbuh di lembaga konservasi telah terbiasa mendapatkan pakan dan perawatan dari manusia. Karena itu, satwa tersebut sulit beradaptasi jika harus kembali hidup di alam bebas.

“Satwa dari ex situ sangat tidak disarankan untuk dilepas di alam liar karena kehidupannya sudah mendapatkan makanan dari pengelola dan tidak bisa mencari makan sendiri,” jelasnya.

Meski demikian, Wisnu menegaskan bahwa lembaga konservasi tetap memegang peran strategis dalam menjaga kelangsungan satwa langka. Selain melindungi populasi satwa, lembaga konservasi juga menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat.

Melalui fasilitas konservasi, masyarakat dapat mempelajari perilaku satwa, kebutuhan pakan, anatomi tubuh, hingga sistem reproduksi secara langsung. Dengan cara itu, kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian satwa dapat terus meningkat.

“Untuk pendidikan konservasi, ex situ ini sangat bagus karena masyarakat bisa mempelajari satwa secara langsung dan memahami bagaimana konservasi teraplikasi dengan baik,” katanya.

Wisnu menambahkan bahwa keberhasilan pengembangbiakan satwa langka dapat menjadi contoh bagi lembaga konservasi lain di Indonesia. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat tercapai apabila pengelola benar-benar mengutamakan kesejahteraan satwa.

Pengelola harus menyediakan lingkungan yang nyaman, pakan yang cukup, fasilitas yang memadai, serta layanan kesehatan yang berkelanjutan. Selain itu, satwa juga membutuhkan ruang gerak dan tempat bermain yang mendukung perilaku alaminya.

“Kalau tempatnya nyaman, pakannya tersedia, kesehatannya terjamin, air dan tempat bermain memadai, mereka akan berkembang biak dengan baik,” ujarnya.

Karena itu, Wisnu mengingatkan bahwa tujuan konservasi tidak boleh sekadar berfokus pada aspek wisata. Sebaliknya, pengelola harus menempatkan kesejahteraan satwa sebagai prioritas utama agar program pelestarian dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Jangan hanya mau tiket masuknya. Jangan hanya dieksploitasi saja, tetapi pakan, kesejahteraan hewan, kesehatan, lingkungan, dan kandangnya harus diperhatikan,” pungkas Wisnu.

(naf/lex)

Iklan