TEGAL, ifakta.co – Peran ulama dalam kehidupan sosial dan pendidikan keagamaan terus menjadi perhatian di berbagai daerah, termasuk di wilayah Tegal Raya.
Karena itu, sejumlah tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren kini mulai memperkuat sinergi melalui wadah komunikasi yang lebih terorganisasi agar pembinaan masyarakat dan pengembangan pesantren berjalan lebih maksimal.
Langkah tersebut terlihat melalui pembentukan Forum Musyawarah Ulama Tegal Raya atau Formula. Organisasi ini hadir sebagai wadah komunikasi antarulama sekaligus ruang musyawarah untuk mendukung perkembangan pendidikan pesantren di Kota dan Kabupaten Tegal.
Iklan
Pembentukan Formula berlangsung atas arahan Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Ma’ruf Amin. Kehadiran forum ini bertujuan untuk memperkuat peran ulama dalam kehidupan masyarakat sekaligus mempererat koordinasi antarpesantren di wilayah Tegal Raya.
Ketua Formula Tegal Raya, Anis Nasuha, mengatakan seluruh pengurus memiliki komitmen membangun organisasi yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Menurutnya, keberadaan forum tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul para ulama, tetapi juga sarana memperkuat kontribusi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami sekalian beserta pengurus yang lain bisa memberi manfaat kepada orang-orang sekitar kita. Maka langkah yang kedua adalah bagaimana kita hidup itu bisa lebih bermanfaat untuk yang lain,” ujar Anis, Minggu (24/5).
Fokus Perkuat Pesantren
Selain mempererat komunikasi antarulama, Formula juga menargetkan penguatan pondok pesantren di wilayah Tegal Raya. Organisasi itu berencana mendukung berbagai kebutuhan pesantren, mulai dari pengembangan program pendidikan hingga pembangunan sarana pendukung kegiatan belajar mengajar.
Menurut pengurus Formula, pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk pendidikan karakter masyarakat. Karena itu, keberadaan forum ulama dapat membantu memperkuat koordinasi dan dukungan terhadap lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
Sekretaris Formula Tegal Raya, Abror Mutholib, menjelaskan pihaknya telah menyiapkan sejumlah agenda organisasi dan akan segera mendiskusikannya bersama para tokoh ulama dalam waktu dekat. Setelah pembahasan selesai, program tersebut akan kami perkenalkan kepada ulama dan pengelola pesantren di Kota maupun Kabupaten Tegal.
“Rencana ke depan masih nanti sudah kita ada agendakan dengan beliau, nanti akan kami diskusikan sekitar satu bulan ini. Program ini akan diturunkan ke Formula kepada ulama-ulama yang ada di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, dan seluruh pesantren,” ujar Abror Musaddad.
Bangun Sinergi Antarulama
Keberadaan Formula juga diharapkan mampu membangun komunikasi yang lebih kuat antarulama di wilayah Tegal Raya. Selama ini, banyak pondok pesantren dan tokoh agama bergerak secara mandiri sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
Melalui forum tersebut, para ulama kini memiliki ruang bersama untuk berdiskusi mengenai persoalan sosial, pendidikan, hingga penguatan nilai keagamaan di masyarakat. Selain itu, organisasi ini juga diharapkan mampu mempererat hubungan antarpesantren agar program pembinaan umat berjalan lebih terarah.
Saat ini, kepengurusan Formula Tegal Raya terdiri dari 33 pengurus dan 11 anggota dewan pertimbangan. Seluruh anggota berasal dari sejumlah pengasuh pondok pesantren dan tokoh ulama di wilayah Tegal Raya.
Dengan komposisi tersebut, Formula ingin menghadirkan organisasi yang aktif menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat pendidikan berbasis pesantren di daerah.
Pembentukan Formula menjadi langkah baru dalam memperkuat peran ulama di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Selain fokus pada pendidikan agama, para pengurus juga ingin membangun gerakan sosial yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, forum ini tidak hanya bergerak dalam bidang komunikasi internal ulama, tetapi juga berupaya memperluas kontribusi sosial melalui berbagai program kemasyarakatan dan pembinaan pesantren.
Ke depan, Formula Tegal Raya berharap sinergi antarulama dan pondok pesantren semakin kuat sehingga mampu menciptakan lingkungan pendidikan keagamaan yang lebih berkembang, terbuka, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
(naf/lex)




