JAKARTA, ifakta.co – Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menemukan spesies baru bakteri termofilik di kawasan Geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. Mikroorganisme tersebut mampu bertahan hidup pada suhu ekstrem yang mendekati titik didih air.

Peneliti memberi nama bakteri itu Thermus javaensis sp. nov. Selain itu, tim peneliti telah mempublikasikan hasil riset tersebut dalam jurnal internasional International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology edisi 2026.

Penemuan ini menjadi catatan penting bagi dunia sains. Sebab, Thermus javaensis menjadi spesies pertama dari genus Thermus yang berasal dari kawasan geotermal Indonesia. Nama “javaensis” merujuk pada Pulau Jawa sebagai lokasi awal penemuan bakteri tersebut.

Iklan

Tim peneliti FMIPA UI menjalankan penelitian bersama sejumlah mitra internasional. Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D. memimpin riset tersebut bersama Dr. Fitria Ningsih, S.Si., M.Eng., Dr. Mazytha K. Rachmania, M.Si., dan Dhian Chitra Ayu Fitria Sari, M.Si. Selain itu, riset juga melibatkan Yasunori Ichihashi, Ph.D. dan Shuhei Yabe, Ph.D. dari RIKEN Jepang serta Prof. Song-Gun Kim, Ph.D. dari KRIBB Korea Selatan.

Hidup di Lingkungan Bersuhu Ekstrem

Peneliti menemukan Thermus javaensis di sekitar serasah daun dekat semburan Geiser Cisolok. Kawasan tersebut memiliki suhu yang dapat mencapai 100 derajat Celsius. Karena itu, hanya mikroorganisme tertentu yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem tersebut.

Prof. Wellyzar menjelaskan bahwa ekosistem geotermal Indonesia masih menyimpan banyak mikroorganisme yang belum terungkap secara ilmiah.

“Penemuan Thermus javaensis menunjukkan bahwa ekosistem geotermal Indonesia merupakan biodiversity hotspot yang menyimpan keanekaragaman mikroorganisme yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah,” ujar Prof. Wellyzar.

Thermus javaensis mampu tumbuh pada suhu 45 hingga 80 derajat Celsius. Namun, bakteri itu berkembang paling optimal pada suhu 60 sampai 65 derajat Celsius.

Selain itu, peneliti menemukan karakter unik pada bakteri tersebut. Thermus javaensis memiliki pigmen kuning dan bentuk sel batang. Mikroorganisme ini juga mempunyai struktur khusus bernama rotund bodies atau struktur bulat yang jarang muncul pada genus Thermus.

Keunikan itu menarik perhatian peneliti. Sebab, struktur serupa sebelumnya muncul pada Thermus aquaticus, bakteri terkenal penghasil enzim Taq polymerase. Enzim tersebut menjadi dasar teknologi PCR yang berperan penting dalam diagnosis penyakit dan riset biologi molekuler modern.

Proses Penelitian Berlangsung Lebih dari Satu Dekade

Tim FMIPA UI tidak menjalankan penelitian ini dalam waktu singkat. Peneliti mulai mengeksplorasi mikroorganisme di kawasan Geiser Cisolok sejak 2012. Selanjutnya, tim mengambil sampel bakteri pada 2015.

Setelah itu, peneliti menjalankan berbagai tahapan ilmiah untuk memastikan identitas mikroorganisme tersebut. Tim melakukan isolasi mikroba, analisis genetik, whole genome sequencing (WGS), hingga karakterisasi biokimia dan mikroskopik.

Tim peneliti juga menghadapi tantangan besar selama proses riset. Sebab, bakteri termofilik membutuhkan suhu tinggi dan medium khusus agar tetap hidup selama penelitian berlangsung.

Melalui pendekatan studi polifasik, peneliti akhirnya memastikan Thermus javaensis sebagai spesies baru. Metode tersebut menggabungkan analisis genetik, fisiologi, biokimia, dan kemotaksonomi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Thermus javaensis memiliki perbedaan signifikan dibanding spesies terdekatnya. Karena itu, tim peneliti memastikan mikroorganisme tersebut bukan sekadar varian, melainkan spesies baru yang sebelumnya belum pernah tercatat dalam dunia ilmiah.

Penemuan ini sekaligus menambah jumlah spesies dalam genus Thermus menjadi 26 spesies sejak ilmuwan pertama kali memperkenalkan genus tersebut pada 1969.

Berpotensi Digunakan di Industri dan Kesehatan

Selain memperkuat riset mikrobiologi dasar, penemuan Thermus javaensis juga membuka peluang besar dalam bidang bioteknologi. Analisis genom menunjukkan bakteri ini berpotensi menghasilkan enzim termostabil yang tahan terhadap suhu tinggi.

Enzim semacam itu sangat penting dalam berbagai sektor industri. Industri farmasi, pangan, energi, hingga laboratorium biologi molekuler membutuhkan enzim tahan panas untuk mendukung proses produksi.

Peneliti juga menemukan indikasi metabolit sekunder dari kelompok terpen pada bakteri tersebut. Senyawa itu berpotensi berkembang menjadi bahan antibakteri, antijamur, antiinflamasi, serta senyawa bioaktif lain.

“Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut di bidang bioteknologi, khususnya mikroorganisme termofilik yang berpotensi menghasilkan aplikasi industri bernilai tinggi,” kata Prof. Wellyzar.

Indonesia Dinilai Masih Menyimpan Banyak Mikroorganisme Baru

Tim FMIPA UI menilai kawasan geotermal Indonesia masih menyimpan potensi besar dalam bidang mikrobiologi. Peneliti bahkan telah mengonfirmasi dua kandidat spesies bakteri baru lainnya dari kawasan Geiser Cisolok.

Saat ini, tim tengah menyiapkan publikasi ilmiah untuk dua kandidat mikroorganisme tersebut. Selain itu, peneliti juga akan melanjutkan eksplorasi terhadap enzim tahan panas, pigmen pelindung sel, dan berbagai senyawa aktif lain.

Riset lanjutan tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan teknologi kesehatan, industri ramah lingkungan, hingga bioteknologi berkelanjutan di Indonesia.

(naf/lex)