JAKARTA, ifakta.co – Minat baca anak dapat tumbuh sejak usia dini apabila orang tua membangun suasana yang nyaman dan menyenangkan di rumah. Psikolog anak dan keluarga, Sani B. Hermawan, menilai pendekatan hangat jauh lebih efektif daripada tekanan atau paksaan saat mengenalkan buku kepada anak.
Di tengah penggunaan gadget yang semakin tinggi, banyak orang tua menghadapi tantangan dalam membangun budaya literasi di rumah. Karena itu, keluarga perlu menghadirkan aktivitas membaca sebagai kebiasaan sehari-hari yang terasa ringan dan menyenangkan bagi anak.
Sani menjelaskan budaya membaca sebaiknya mulai dikenalkan sejak anak masih kecil. Dengan cara itu, anak akan merasa akrab dengan buku dan lebih mudah menjadikan membaca sebagai bagian dari rutinitas.
Iklan
“Jadi, culture atau budaya baca bisa dikenalkan sejak dini, sehingga anak sudah familier dan merasa dekat dengan buku,” ujar Sani B. Hermawan, psikolog anak dan keluarga, Senin (18/5).
Sudut Baca Bisa Tingkatkan Ketertarikan Anak
Sani menyarankan orang tua menyediakan sudut baca sederhana di rumah. Orang tua tidak perlu membuat ruang khusus yang mewah. Mereka cukup menata rak buku kecil, karpet, atau bantal duduk agar anak merasa nyaman saat membuka buku.
Anak biasanya lebih tertarik membaca ketika mereka melihat buku berada dekat dengan aktivitas sehari-hari. Selain itu, anak juga lebih mudah mengambil buku sendiri apabila posisi rak terjangkau.
“Misalnya ada sudut baca anak, taruhlah rak-rak buku yang menyenangkan yang anak gampang baca dan ambilnya,” kata Sani B. Hermawan.
Menurutnya, kebiasaan kecil seperti itu membantu anak membangun hubungan positif dengan buku. Karena itu, orang tua perlu menghadirkan suasana rumah yang mendukung aktivitas membaca secara konsisten.
Jenis Buku Perlu Menyesuaikan Usia Anak
Selain menyediakan tempat membaca, orang tua juga perlu memilih buku sesuai usia anak. Anak usia pra-sekolah biasanya lebih menyukai buku interaktif dengan gambar besar dan warna cerah.
Buku dengan fitur pop-up, suara, dan ilustrasi menarik mampu membantu anak menikmati proses membaca. Sementara itu, anak usia sekolah mulai tertarik pada cerita petualangan, komik edukatif, atau buku pengetahuan sesuai minat mereka.
Sani menilai kenyamanan anak menjadi faktor utama dalam membangun budaya membaca. Karena itu, orang tua tidak perlu memaksa anak membaca buku yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
Orang tua Perlu Aktif Membaca Bersama Anak
Sani juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua saat anak membaca. Orang tua dapat meluangkan waktu untuk membacakan cerita sebelum tidur atau berdiskusi tentang isi buku bersama anak.
Interaksi sederhana seperti menebak jalan cerita atau mengajukan pertanyaan ringan dapat membuat anak lebih menikmati aktivitas membaca. Selain itu, kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
“Disesuaikan dengan usia anak, terpenting sebenarnya anak merasa nyaman, enak, ada interaksi antara orangtua dan anak dalam membaca, misalnya dibacakan waktu sebelum tidur, jadi bahan interaksi dengan orang tua,” kata Sani B. Hermawan.
Ia menilai anak akan lebih mudah menyukai buku ketika orang tua ikut terlibat secara aktif dalam proses tersebut.
Buku Fisik Dinilai Lebih Efektif untuk Anak
Dalam penjelasannya, Sani juga menyoroti perbedaan buku fisik dan buku digital. Ia menilai buku fisik masih memberikan pengalaman yang lebih baik bagi anak usia dini.
Anak dapat menyentuh halaman buku, melihat ilustrasi secara langsung, dan menikmati pengalaman visual yang lebih menarik. Aktivitas tersebut membantu perkembangan sensorik dan konsentrasi anak.
“Secara isi, kalau untuk anak-anak lebih menarik buku fisik, dan dampak secara fisik dan perkembangan anak juga lebih bagus buku fisik daripada buku digital,” ungkap Sani B. Hermawan.
Meski demikian, buku digital tetap dapat menjadi alternatif untuk anak yang lebih besar. Namun, orang tua tetap perlu membatasi penggunaan gadget agar anak tidak terlalu bergantung pada layar.
Melalui kebiasaan membaca yang rutin dan menyenangkan, anak dapat meningkatkan kemampuan literasi sekaligus melatih imajinasi, konsentrasi, dan kemampuan berpikir sejak dini.
(naf/lex)



