BOGOR, ifakta.co – Di tengah kebutuhan protein hewani yang terus meningkat, IPB University menghadirkan inovasi ayam lokal unggul yang kini menarik perhatian Kementerian Pertanian.
Selain itu, pemerintah mulai mendorong pengembangannya sebagai solusi pangan sehat dan peluang ekonomi bagi peternak.
Kementan Targetkan Produksi Indukan
Kementerian Pertanian mulai mendorong produksi ayam IPB dalam skala besar. Oleh karena itu, pemerintah menggandeng IPB University untuk mempercepat penyediaan bibit unggul.
Iklan
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Cece Sumantri, menjelaskan rencana tersebut secara langsung.
“Saya diminta untuk membuat program untuk menghasilkan 5.000 indukan di akhir tahun,” ujarnya dalam laman IPB, Kamis (23/4).
Selanjutnya, IPB University menyiapkan fasilitas penetasan dan mengaktifkan jaringan mitra peternak. Dengan langkah ini, kampus memastikan target produksi bisa tercapai. Selain itu, pengembangan ini melanjutkan program PUAPT melalui IPB Poultry Breeding Center.
Ayam Hasil Persilangan, Lebih Adaptif
Peneliti IPB mengembangkan ayam IPB melalui persilangan beberapa rumpun unggul. Mereka menggabungkan ayam Pelung dengan Sentul serta ayam kampung dengan parent stock Cobb.
Karena itu, ayam IPB D1 tumbuh lebih cepat dan menggunakan pakan lebih efisien. Selain itu, ayam ini menunjukkan daya tahan lebih baik terhadap penyakit seperti Newcastle disease dan salmonella.
Di sisi lain, peternak bisa memanen ayam ini pada usia 10–12 minggu dengan bobot lebih dari 1 kilogram. Bahkan, dengan pakan optimal, bobotnya bisa mencapai sekitar 1,8 kilogram.
Kandungan Gizi Tinggi dan Lebih Sehat
Peneliti juga menguji kualitas daging ayam IPB melalui riset yang didukung LPDP. Hasilnya menunjukkan kandungan protein mencapai sekitar 19,1 persen.
Selain itu, daging ayam IPB mengandung asam amino esensial 4,58 persen dan omega-3 sebesar 2,34 persen. Sementara itu, kadar kolesterolnya relatif rendah, sekitar 66,12 mg per 100 gram.
Dengan komposisi ini, ayam IPB berpotensi menjadi sumber pangan sehat. Oleh sebab itu, produk ini cocok untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.
Kolaborasi Percepat Pengembangan
IPB University memperluas kerja sama dengan berbagai mitra untuk mempercepat pengembangan. Kampus menggandeng UMKM dan kelompok peternak di beberapa daerah.
Selain itu, peneliti juga terus mengembangkan inovasi pakan. Sumiati meneliti pemanfaatan minyak ikan lemuru untuk meningkatkan kandungan omega-3.
Di sisi lain, tim riset juga mendorong hilirisasi produk. Irma Isnafia Arief mengembangkan berbagai produk olahan agar nilai jual meningkat.
Sudah Masuk Pasar, Fokus Perbanyak Bibit
Saat ini, ayam IPB sudah masuk pasar sebagai produk premium. Produk ini bahkan menyasar segmen khusus, termasuk rumah sakit.
“Ayamnya sudah layak komersial. Kita sudah punya merek dan pasar,” katanya.
Namun, IPB tetap memprioritaskan produksi bibit. Langkah ini bertujuan memperluas populasi ayam IPB sebelum memenuhi kebutuhan pasar konsumsi.
“Sayang kalau bibit dijual untuk dipotong. Harusnya diperbanyak dulu untuk mendukung industri,” ujarnya.
Dorong Ketahanan Pangan Nasional
IPB University terus memperkuat riset dan kolaborasi untuk mempercepat pengembangan ayam IPB. Selain itu, pemerintah juga melihat peluang besar dari inovasi ini.
Dengan strategi tersebut, ayam IPB berpotensi menjadi solusi nyata untuk memenuhi kebutuhan protein nasional. Di sisi lain, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi peternak rakyat.
(naf/kho)




