BANYUMAS, ifakta.co – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar Kuliah Umum Akuakultur 2026 bertajuk “Antimicrobial Resistance (AMR) in Aquaculture: Mechanisms, Drivers and Sustainable Solutions” pada Selasa (10/3) di Aula FPIK Unsoed.
Kegiatan itu menjadi forum akademik untuk membahas tantangan global terkait resistensi antimikroba dalam sektor kesehatan dan budidaya perikanan.
Dilansir dari laman Unsoed, kuliah umum tersebut menghadirkan narasumber internasional, Assoc. Prof. Mohd Firdaus Bin Nawi dari Kulliyyah of Science, International Islamic University Malaysia (IIUM). Diskusi dipandu oleh Lilik Setiyaningsih, dosen Program Studi Akuakultur FPIK Unsoed.
Iklan
Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peneliti di bidang perikanan dan akuakultur yang tertarik pada isu kesehatan ikan dan keberlanjutan sistem budidaya perikanan.
Melalui forum tersebut, peserta diajak memahami lebih jauh mengenai resistensi antimikroba yang kini menjadi perhatian serius dalam pendekatan kesehatan terpadu One Health, yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Mohd Firdaus Bin Nawi menegaskan bahwa Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan salah satu ancaman besar bagi kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan AMR sebagai salah satu risiko terbesar bagi kesehatan masyarakat dunia.
“AMR menjadi isu yang sangat serius karena dapat menyebabkan antibiotik yang sebelumnya efektif menjadi tidak lagi mampu mengendalikan infeksi. Kondisi ini juga berkaitan dengan sektor akuakultur, di mana tekanan penyakit yang tinggi sering mendorong penggunaan antibiotik secara intensif dalam sistem budidaya,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme mampu bertahan terhadap paparan antibiotik yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Dampaknya, infeksi menjadi lebih sulit ditangani dan berpotensi menyebar ke organisme lain maupun lingkungan perairan.
“Penggunaan antibiotik dalam akuakultur memang dapat dilakukan untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit. Namun, penggunaan yang tidak tepat seperti dosis yang tidak sesuai, pengobatan yang tidak tuntas, serta lemahnya pengawasan dapat mempercepat munculnya bakteri yang resisten,” ujarnya.
Sebagai langkah solusi, ia menekankan pentingnya penerapan sistem budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan.
Beberapa alternatif yang dapat diterapkan antara lain vaksinasi ikan, penggunaan probiotik, fitobiotik berbasis ekstrak tanaman, imunostimulan, serta penerapan good aquaculture practices untuk mengurangi ketergantungan pada antibiotik.
Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif antara peserta dan narasumber.
Diskusi tersebut membahas perkembangan riset terbaru terkait AMR serta peluang kolaborasi penelitian internasional dalam bidang kesehatan ikan dan akuakultur berkelanjutan.
Melalui kuliah umum ini, FPIK Unsoed berharap dapat memperluas wawasan akademisi dan mahasiswa mengenai tantangan resistensi antimikroba sekaligus mendorong pengembangan praktik budidaya perikanan yang lebih bertanggung jawab, inovatif, dan berkelanjutan.
(naf/kho)



