JAKARTA, ifakta.co  – Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menyentuh USD100 per barel setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker asing di kawasan Teluk Persia. 

Insiden tersebut meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Lonjakan harga terjadi meskipun Badan Energi Internasional (IEA) bersama negara-negara anggotanya telah sepakat untuk melepaskan cadangan minyak dalam jumlah besar guna menenangkan pasar.

Iklan

Sebanyak 32 negara anggota IEA, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Langkah ini disebut sebagai pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan dalam sejarah organisasi tersebut.

Namun demikian, upaya tersebut belum mampu menahan lonjakan harga minyak yang dipicu meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Serangan Kapal Tanker di Teluk Persia

Ketegangan meningkat setelah dilaporkan terjadi ledakan pada dua kapal tanker minyak asing di Teluk Persia, tepatnya di lepas pantai Basra, Irak.

Otoritas Irak menyatakan insiden tersebut menewaskan setidaknya satu orang, sementara 38 awak kapal berhasil diselamatkan. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di lokasi kejadian.

Data dari situs pelacakan kapal menunjukkan kedua tanker tersebut sempat dikelilingi kapal penyelamat setelah ledakan terjadi. Hingga kini, penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan.

Sumber keamanan Irak menduga sebuah kapal Iran yang membawa bahan peledak kemungkinan menabrak kedua kapal tersebut. Namun dugaan itu masih didalami oleh pihak berwenang.

Kapal Berbendera Thailand Diserang di Selat Hormuz

Dalam insiden terpisah, angkatan laut Oman menyelamatkan 20 pelaut dari kapal berbendera Thailand yang diserang di Selat Hormuz, sekitar 24 kilometer dari pantai Oman.

Beberapa jam sebelumnya, sejumlah tangki penyimpanan bahan bakar di Pelabuhan Salalah, Oman, juga dilaporkan terkena serangan drone.

Pemerintah Oman menyebut serangan tersebut sebagai tindakan jahat, namun menegaskan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Iran Ancam Jalur Minyak Dunia

Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat Iran memperingatkan bahwa negara tersebut dapat menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Penasihat Korps Garda Revolusi Iran, Ebrahim Jabbari, menyatakan bahwa kapal-kapal yang mencoba melintas di kawasan tersebut dapat menghadapi respons militer dari Iran.

Ia juga memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga USD200 per barel jika konflik terus memburuk.

Ketegangan Militer AS dan Iran

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di dekat Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran, bahkan mengancam akan melakukan serangan militer lebih besar jika konflik terus meningkat.

Di sisi lain, Iran melaporkan serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan lebih dari 1.300 warga sipil, menurut pernyataan perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dampak ke Pasar Energi Global

Meluasnya konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia. Selain serangan terhadap kapal tanker, sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal.

Beberapa negara produsen energi seperti Arab Saudi dan Qatar bahkan mengaku berhasil mencegat serangan yang menargetkan fasilitas minyak dan gas mereka.

Analis energi memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi terus meningkat dan memicu krisis energi global. (AMN)