MALANG, ifakta.co – Empat mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional dengan meraih juara kedua (runner up) dalam ajang International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva dari Program Studi Teknik Bioproses Fakultas Teknik (FT), serta Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).
Prestasi tersebut diraih berkat inovasi mereka yang diberi nama BUDDY (Breast Urgency Detection Device with Thermography), sebuah sistem deteksi dini kanker payudara yang memanfaatkan teknologi kamera termal dan terintegrasi dengan aplikasi ponsel.
Iklan
“Ide yang kami usung bernama BUDDY (breast urgency detection device with thermography), merupakan sistem deteksi dini kanker payudara yang mengutilisasi kamera termal. Sistem ini dapat dijalankan melalui aplikasi di ponsel, dan dapat memberikan hasil secara cepat dalam 5–10 detik,” jelas Dastino, seperti dalam rilis UB (4/3).
Gagasan pengembangan alat ini berangkat dari kepekaan tim terhadap tingginya prevalensi kanker payudara serta masih adanya kendala dalam metode deteksi yang umum digunakan saat ini, seperti SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis).
Kedua metode tersebut dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rasa tidak nyaman hingga rendahnya tingkat edukasi masyarakat terkait pemeriksaan mandiri.
Melihat kondisi tersebut, tim mencoba menghadirkan alternatif deteksi dini yang lebih praktis dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah.
Dastino menjelaskan, cara kerja aplikasi BUDDY cukup sederhana. Pengguna terlebih dahulu diminta mengisi survei awal, kemudian dilakukan pengambilan gambar menggunakan kamera termal dari jarak sekitar 60 sentimeter secara horizontal dari area payudara.
Data hasil pemindaian tersebut kemudian dikirim ke sistem BUDDY melalui server hosting untuk dianalisis lebih lanjut.
Sistem ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) yang telah dilatih menggunakan ribuan foto sampel dari DMR, anotasi Roboflow, serta model AI YOLO v8.
Melalui proses analisis tersebut, sistem dapat menampilkan hasil deteksi yang mencakup lokasi, ukuran, hingga jenis stadium kanker payudara.
“Secara garis besar, aplikasi ini dibagi menjadi dua bagian yakni mata untuk melihat ide adalah kamera termal, lalu otaknya adalah perangkat lunak. Aplikasi ini juga disertai AI yang telah dilatih,” tambah Dastino.
Di balik keberhasilan tersebut, perjalanan tim tidak selalu berjalan mulus. Dastino mengungkapkan bahwa mereka sempat menghadapi kesulitan dalam menutup biaya registrasi sebagai finalis kompetisi internasional tersebut.
Meski demikian, mereka tetap bersyukur karena mendapatkan bantuan dana dari fakultas serta dukungan dari tim meskipun belum menutupi seluruh kebutuhan biaya.
“Agar mahasiswa berani untuk mengikuti lomba international, kami berharap pihak kampus dapat memberikan bantuan lebih banyak khususnya di bagian dana,” tutur Dastino.
Ke depan, Dastino berharap inovasi BUDDY dapat terus dikembangkan dan bahkan dikomersialisasikan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ia juga berharap pemerintah dapat mendukung pengembangan teknologi tersebut sebagai salah satu alternatif deteksi dini kanker payudara.
Selain itu, ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, keberanian untuk mencoba menjadi langkah awal untuk meraih prestasi. Ia menegaskan bahwa kemenangan hanya dapat diraih oleh mereka yang berani mengambil kesempatan terlebih dahulu.
(naf/kho)



